Dalil siapakah imam yang berhak di taati

Dalil siapakah imam yang berhak di taati

Imam Abu Dawud v no. 4250 berkata:

حَدَّثَنَامُسَدَّدٌحَدَّثَنَاعِيسَىبْنُيُونُسَحَدَّثَنَاالأَعْمَشُعَنْزَيْدِبْنِوَهْبٍعَنْعَبْدِالرَّحْمَنِبْنِعَبْدِرَبِّالْكَعْبَةِعَنْعَبْدِاللَّهِبْنِعَمْرٍوأَنَّالنَّبِىَّ -صلىاللهعليهوسلم- قَالَ«مَنْبَايَعَإِمَامًافَأَعْطَاهُصَفْقَةَيَدِهِوَثَمَرَةَقَلْبِهِفَلْيُطِعْهُمَااسْتَطَاعَفَإِنْجَاءَآخَرُيُنَازِعُهُفَاضْرِبُوارَقَبَةَالآخَرِ»

Menceritakan kepada kami Musadad menceritakan kepada kami Isa bin Yunus, menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Zaid bin Wahab dari Abdurrahman bin Abd Rabil Ka’bah dari Abdullah bin Amru sesungguhnya Nabi n bersabda: “Dan Barangsiapa memberi bai’at kepada seorang imam dengan menjabat tangannya dan dilaksanakannya dengan sepenuh hati, hendaknya ia mentaatinya dengan segenap kemampuan. Jika datang yang lain ingin merebut keimamannya penggalah leher (imam) yang lain”.

Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 1844, Nasai (7/152, 154), Ibn Majah no. 4956 dan Ibn Hibban no. 5916.

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa imam yang wajib ditaati disatu wilayah adalah imam tertinggi yang menjadi pemenang dan penguasa atas imam-imam yang lain.

Al-Qadhi Abu Ya’la v dalam Ahkam As-Sulthaniyah h. 23 tentang apa yang harus dilakukan tatkala ada dua atau lebih imam:

“تَكُونُالْجُمُعَةُمَعَمَنْغَلَبَ”.وَاحْتَجَّبِأَنَّابْنَعُمَرَصَلَّىبِأَهْلالْمَدِينَةِفِيزَمَنِالْحَرَّةِ . وَقَال : “نَحْنُمَعَمَنْغَلَبَ”

“Hendaknya Shalat Jum’at bersama orang yang menang”. Dan berhujjah dengan perbuatan Ibnu Umar tatkala sholat dengan Ahli Madinah dizaman Al-Harah, sambil berkata:  “Saya bersama orang yang menang (mengalahkan)”.

 Syaikh Abdul Latif bin Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh v menukil kesepakatan dalam Majmu Atur Rasail Wal Masail An-Najdiyah (3/168):

وأهل العلم …. متفقون على طاعة من تغلب عليهم في المعروف، يرون نفوذ أحكامه، وصحة إمامته، لا يختلف في ذلك اثنان، ويرون المنع من الخروج عليهم بالسيف وتفريق الأمة، وإن كان الأئمة فسقة ما لم يروا كفراً بواحاً

“Dan Ahli Ilmu (ulama) … telah sepakat untuk taat dalam kebaikan kepada orang yang menguasainya, melaksanakan undang-undangnya dan menganggap kepemimpinannya itu sah.Tidak ada yang berselisih didalam hal ini.Mereka melarang khuruj (berontak) kepada penguasa tersebut dan juga melarang memecah belah umat, walaupun penguasanya fasik, selagi mereka tidak menampakkan kekufuran yang nyata”.

(36). Syaikhul Islam Ibn Taimiyah v dalam Kitab Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah (1/115):

وهو أن النبي r أمر بطاعة الأئمة الموجودين المعلومين الذين لهم سلطان يقدرون به على سياسة الناس لا بطاعة معدوم ولا مجهول ولا من ليس له سلطانولا قدرة على شيءأصلا

“Sesungguhnya Nabi Muhammad r telah memerintahkan agar kita mentaati pemimpin yang ada dan telah diakui kekuasaan dan kedaulatannya untuk mengatur manusia, tidak memerintah kita untuk mentaati pemimpin yang tidak jelas (ma’dum) dan tidak diketahui keberadaannya (majhul), juga tidak mempunyai kekuasaan dan kemampuan sedikitpun”.

Ini menjadi ijma ulama ahlus sunnah dimana mereka tidak mentaati imam-imam yang diklaim Syi’ah yang imam-imam itu tidak berkuasa, tidak mendzahirkan keimamannya, bahkan harus bertaqiyah karena takut kepada penguasa.

“Sesungguhnya Nabi Muhammad r telah memerintahkan agar kita mentaati pemimpin yang ada dan telah diakui kekuasaan dan kedaulatannya untuk mengatur manusia, tidak memerintah kita untuk mentaati pemimpin yang tidak jelas (ma’dum) dan tidak diketahui keberadaannya (majhul), juga tidak mempunyai kekuasaan dan kemampuan sedikitpun”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>