Pembahasan Atsar ” ….. إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ ” (Bag. 1)

Pembahasan Atsar ” ….. إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ ” (Bag. 1)

Atsar itu diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi v dalam Sunan (no. 251):

أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنِى صَفْوَانُ بْنُ رُسْتُمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَيْسَرَةَ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ قَالَ : تَطَاوَلَ النَّاسُ فِى الْبِنَاءِ فِى زَمَنِ عُمَرَ ، فَقَالَ عُمَرُ : يَا مَعْشَرَ الْعُرَيْب الأَرْضَ الأَرْضَ، إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ ، وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ ، وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ ، فَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى الْفَقْهِ كَانَ حَيَاةً لَهُ وَلَهُمْ ، وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى غَيْرِ فِقْهٍ كَانَ هَلاَكاً لَهُ وَلَهُمْ

Mengabarkan kepada kami Yazid ibn Harun, mengabarkan kepada kami Baqiyah, menceritakan kepada kami Sofwan ibn Rustum dari Abdurahman ibn Maisaroh dari Tamim Ad-Dari yang berkata, “Sebagian manusia bersikap berlebihan dalam membangun di zaman Umar, berkata Umar, “Hai orang-orang Arab, tanah !, tanah!. Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya keamiran dan tidak ada keamiran kecuali dengan taat. Barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya karena ilmunya/pemahamannya maka akan menjadi kehidupan bagi dirinya sendiri dan juga bagi mereka, dan barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya tanpa memiliki ilmu/pemahaman, maka akan menjadi kebinasaan bagi dirinya dan juga bagi mereka”.

Dari segi sanad, atsar ini dha’if, tidak shahih dari Umar. Diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (I/79) no. 251 dan Ibn Abdil Barr dalam Jamiul Bayan al-Ilmu no. 244. Kelemahannya karena adanya perowi bernama Shafwan ibn Rustum. Imam Dzahabi v dalam Mizan al-I’tidal (jilid 3 biografi no. 3902 -cet Darul Kutub Al-Ilmiyah) mengatakan, “Shofwan ibn Rustum (meriwayatkan) dari Ruh ibn Al-Qasim, dia tidak dikenal (majhul). Berkata Al-Azdi, “Munkarul hadits”. Kelemahannya bertambah-tambah dengan keterputusan antara Abdurahman bin Maisaroh dan Tamim, dimana Abdurahman sebenarnya tidak pernah bertemu Tamim, disamping Baqiyah juga seorang mudalis. Memang ada beberapa ulama yang menghasankan hadits ini karena ada penguat dari perkataan Abu Darda [1] ...continue, akan tetapi yang rajih adalah kedhaifannya.

Dari segi makna, andaikata shahih, ada perbedaan antara mereka dengan ulama ahlus sunnah dalam memahami atsar ini. Perkataan ‘la Islama’ bukan berarti belum sah Islamnya (belum Islam). Melainkan dalam arti kesempurnaan, tidak sempurna Islamnya orang yang tidak mengikuti jama’ah. Sebagaimana disampaikan oleh pengajar di Masjidil Harom, Syaikh Sholih Al-Abud Kemudian, para ulama yang menggunakan atsar Umar itu, tidaklah memaksudkannya untuk jama’ah-jama’ah hizbiyyah (golongan/kelompok) sirriyyah (rahasia) model mereka. Bahkan justru para Ulama menggunakan atsar itu untuk menyerang firqah-firqah seperti mereka yang keluar dari penguasa muslim dan jama’ah kaum muslimin.

Dan atsar ini juga dhaif karena keterputusan antara Qotadah dan Abu Darda, sebab Qotadah tidak pernah bertemu dan mendengar dari Abu Darda.

Sebagaimana yang nampak dari perkataan Syaikh Ibnu Barjas v [3] ...continue yang mengutip atsar ini secara makna dalam sebuah kitab yang sebenarnya dikutip juga oleh mereka dalam Kitab Muktashor Jama’ah wal Imammah, hanya saja mereka tidak menyampaikan dari kitab itu kepada jama’ahnya kutipan-kutipan dibawah ini,

qoul syaikh ibnu Barjas

“Sesungguhnya mendengar dan taat kepada pemerintah Muslim adalah salah satu pokok aqidah salafiyyah. Banyak kitab-kitab yang telah memuat permasalahan ini, yang disertai dengan penjabaran dan penjelasannya. Hal ini tidak lain karena penting dan agungnya perkara ini. Urusan agama dan dunia [2] ...continue akan menjadi baik bila penguasa didengar dan ditaati. Sebaliknya timbulnya kerusakan dalam masalah agama dan dunia terjadi bila pemerintah sudah ditentang dengan perkataan maupun perbuatan. Perlu diketahui, bahwa dalam Islam, ad-Din ini tidak tegak kecuali dengan jama’ah, dan jama’ah tidak tegak kecuali dengan imammah, dan imammah tidak akan tegak kecuali dengan mendengar dan taat. Berkata Al-Hasan Al-Bashri –rahimahullahu Ta’ala- tentang (makna) Amir, “Mereka adalah yang menguasai kita dalam lima perkara: Shalat jum’at, shalat jama’ah, hari raya, pertahanan dan penegakan hukum …. ” (Mu’amaltul Hukam hal. 7 –cet Maktabah Ar-Rasyid).

Ini penegasan bahwa yang dimaksud amir oleh ulama bukan amir jama’ah hizbiyah atau amir dakwah seperti jama’ahnya Kiyai Haji Nur Hasan Ubaidah. Sebab amir-amir jamaah hizbiyah tidak menguasai kelima perkara ini.

Syaikh Ibnu Barjas v berkata pula pada hal. 39:

Qoul Syaikh Ibnu Barjas

“Kaidah yang kelima: Imam yang diperintah Nabi n untuk ditaati adalah para imam yang keberadaannya konkrit diketahui, memiliki kekuasaan dan kemampuan”. Adapun orang yang tidak jelas atau yang tidak memiliki kekuasaan sedikitpun, maka bukanlah termasuk amir yang diperintahkan oleh Nabi untuk ditaati. Berkata Syaikhul islam Ibn Taimiyah v: “Sesungguhnya Nabi Muhammad n telah memerintahkan agar kita mentaati pemimpin yang ada dan telah diakui kekuasaan dan kedaulatannya untuk mengatur manusia, tidak memerintah kita untuk mentaati pemimpin yang tidak jelas dan tidak diketahui keberadaannya, juga tidak mempunyai kekuasaan dan kemampuan sedikitpun”. (Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah (1/115).

Dan pada hal. 40 beliau berkata,

Qoul Syiakh Ibnu Barjas

“Barangsiapa menganggap dirinya sebagai ulil amri yang mempunyai kekuasaan dan kemampuan untuk mengatur manusia, lalu mengajak manusia untuk mendengar dan taat kepadanya atau ada sekelompok jamaah yang membai’atnya untuk wajib didengar dan ditaati, serta memprovokasi manusia agar mau bergabung bersamanya untuk mengembalikan hak-hak kepada yang berhak dengan menggunakan berbagai nama dan slogan sedangkan penguasa yang sah masih tegak berkuasa, maka yang demikian adalah penentangan kepada Allah dan rasul-Nya juga menyelisihi aturan syariat dan telah keluar dari jamaah.

Maka tidaklah wajib untuk taat kepada orang yang seperti ini bahkan diharamkan, tidak boleh mengakuinya dan menjalankan hukumnya. Barangsiapa membantu, menolong dan mendukungnya dengan harta ataupun perkataan bahkan yang lebih kecil dari itu, maka dia telah bekerjasama untuk menghancurkan agama Islam dan membantai umatnya serta membuat onar dipermukaan bumi ini. Allah tidak suka terhadap orang yang membuat kerusakan”.

Catatan Kaki   [ + ]

1. Lafazh Abu Darda,Maka tidaklah wajib untuk taat kepada orang yang seperti ini bahkan diharamkan, tidak boleh mengakuinya dan menjalankan hukumnya. Barangsiapa membantu, menolong dan mendukungnya dengan harta ataupun perkataan bahkan yang lebih kecil dari itu, maka dia telah bekerjasama untuk menghancurkan agama Islam dan membantai umatnya serta membuat onar dipermukaan bumi ini. Allah tidak suka terhadap orang yang membuat kerusakan”.

لا إِسْلامَ إِلا بِطَاعَةِ وَلا خَيْرَ إِلا فِي جَمَاعَةٍ والنصح لله عز وجل وَلِلْخَلِيفَةِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً

“Tidak ada Islam kecuali dengan taat, dan tidak ada kebaikan kecuali dalam jama’ah, dan nasihat Allah Azza wa Jalla dan bagi Khalifah, dan bagi kaum muslimin semuanya”.

Atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (21/289) dan Ibnu Atsakir (25/24). Atsar ini terdapat dalam Kanzul Ummal no. 44282. Dan atsar ini juga dhaif karena keterputusan antara Qotadah dan Abu Darda, sebab Qotadah tidak pernah bertemu dan mendengar dari Abu Darda. lafazh yang dikutip dari Ibnu Abdil Barr, dan begitu pula dari Ibnu Atsakir dan Kanzul Ummal tidak lengkap, sungguh atsar ini telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya (no. 15540) demikian pula oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (6/75) dengan lafazh yang lebih jelas:

لا إِسْلامَ إِلا بِطَاعَةِ اللَّهِ وَلا خَيْرَ إِلا فِي جَمَاعَةٍ, وَالنَّصِيحَةُ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْخَلِيفَةِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً

“Tidak ada Islam kecuali dengan ketaatan kepada Allah, dan tidak ada kebaikan kecuali dalam Jama’ah, dan nasihat bagi Allah,  bagi Rasul-Nya, bagi para khalifah dan bagi orang-orang iman semuanya”.

2. Ini juga penjelasan dari Syaikh yang diselisihi pengikut Haji Nur Hasan yang mengatakan bahwa keimaman itu hanya mengurusi akhirat/agama saja.
3. Beliau adalah Ahli hadits dari Saudi, telah meninggal karena kecelakaan tahun 1425 H. Guru-guru Syaikh Abdus Salam diantaranya adalah Syaikh Ibn Bazz, Syaikh Shaleh ibn Utsaimin, Syaikh ibn Jibrin, Syaikh Muhadits Abdullah ibn Duwaisi, Syaikh Shalih ibn Abdurrahman Al-Athram, Syaikh Abdurahman ibn Ghudayan, Syaikh Shalih ibn Ibrahim Al-Balihi, dan lainnya.
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>