Bai’at sebagai penghalal hidup. Apa kata para sahabat ?

Bai’at sebagai penghalal hidup. Apa kata para sahabat ?

Jama’ahnya Haji Nur Hasan telah berlebihan dalam meletakan masalah imammah (keimaman) sehingga sampai meletakan masalah ini diatas rukun Islam yang lima, bahkan sebagai syarat diterimanya rukun Islam yang lima dan semua amalnya, bahkan orang Islam yang tidak melakukan syirik sekalipun kalau tidak membai’at imam (lebih khusus lagi imam mereka) maka semua amalnya itu tidak akan diterima, bai’at kepada imam dianggap sebagai pengesah keislaman seseorang dan menghalalkan hidupnya, seakan-akan dengan inilah Islam itu dibangun dan karena inilah Islam itu disebarkan.

Ini tentu saja pemahaman yang batil, sebab syahadatlah yang menjadi pen-sah keislaman seseorang bukan bai’at menurut ijma kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Adh-Dhariyat 56).

Manusia diciptakan Alloh untuk mentauhidkan-Nya bukan untuk mentauhidkan keimaman Haji Nur Hasan.

Dan Allah Ta’ala Berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya (An-Nissa 48).

Dan masalah tidak membai’at imam bukan syirik menurut ijma kaum muslimin.

Bahkan menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[1] ...continue v (w. 728 H/ 1328 M) dalam Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah (I/75 – Tahqiq Dr. Muhammad Rasyid Salim), itiqad yang demikian dianggap kekufuran, beliau berkata,

إِنَّ قَوْلَ الْقَائِلِ: )إِنَّ مَسْأَلَةَ الْإِمَامَةِ أَهَمُّ الْمَطَالِبِ فِي أَحْكَامِ الدِّينِ، وَأَشْرَفُ مَسَائِلِ الْمُسْلِمِينَ(. كَذِبٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ سُنِّيِّهِمْ، وَشِيعِيِّهِمْ، بَلْ هَذَ كُفْرٌ. فَإِنَّ الْإِيمَانَ بِاللَّهِ، وَرَسُولِهِ أَهَمُّ مِنْ مَسْأَلَةِ الْإِمَامَةِ، وَهَذَا مَعْلُومٌ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ، فَالْكَافِرُ لَا يَصِيرُ مُؤْمِنًا حَتَّى يَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَهَذَا هُوَ الَّذِي قَاتَلَ عَلَيْهِ الرَّسُولُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْكُفَّارَ أَوَّلًا

“Sesungguhnya yang berpendapat, (bahwa masalah ‘Imammah’ merupakan tuntutan yang paling urgen di dalam hukum Islam dan merupakan masalah kaum muslimin yang paling mulia) adalah dusta belaka berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun kalangan Syi’ah (yakni Syi’ah yang awal –pen). Bahkan pendapat seperti itu adalah sebuah kekufuran. Sebab masalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya lebih penting daripada masalah ’Imammah’. Hal itu sudah sangat dimaklumi di dalam dinul Islam. Seorang kafir tidak akan menjadi seorang mukmin hingga ia bersyahadat Laa Ilaaha Illallaahu wa Anna Muhammadan Rasulullah. Atas dasar itulah Rasulullah n memerangi kaum kafir yang awal.”

Yang benar, masalah keimaman itu adalah fardhu kifayah, tidak termasuk usuluddin, dan tidak pula untuk menghalalkan hidup seseorang. Imam Al-Mawardzi v dalam Ahkam Al-Sultaniyah (1/4) berkata:

فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْإِمَامَةِ فَفَرْضُهَا عَلَى الْكِفَايَةِ كَالْجِهَادِ وَطَلَبِ  الْعِلْمِ

“Apabila telah pasti kewajiban adanya sebuah imammah, maka hukumnya menjadi fardhu kifayah, sebagaimana hukum jihad dan menuntut ilmu”.

Lebih jauh lagi, jama’ah Nur Hasan Ubaidah telah mencoba memasukan keimaman kedalam rukun Islam  yang lima dengan sedikit permainan kata-kata, mereka biasa berkata, “Rukum Islam itu adalah lima -Syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu- kemudian diteruskan dengan beramir, berbai’at, dan taat”.

Padahal sahabat Rasulullah n saja tidak seberani mereka dalam masalah ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad v dalam Musnad (2/26) no. 4798 :

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِى الْجَعْدِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ بِشْرٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ». قَالَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ وَالْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ ابْنُ عُمَرَ الْجِهَادُ حَسَنٌ هَكَذَا حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم

Menceritakan kepada kami Waqi dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abi Al-Ja’di dari Yazid bin Bisyr dari Ibnu Umar a yang berkata, ‘Islam didirikan atas lima dasar, yaitu: Syahadat bahwasanya tiada yang berhak diibadahi selain Allah (dan Muhammad Rasulullah); Mendirikan shalat; Mengeluarkan zakat; Melaksanakan haji ke Baitullah; Serta melakukan puasa pada bulan Ramadhan”. Kemudian seorang laki-laki berkata kepada Ibn Umar, “Dan jihad fi sabilillah”. Ibn Umar menjawab, “(Ya) Jihad itu memang baik akan tetapi beginilah yang disabdakan Rasulullah n kepada kami”. [2] ...continue

Lihatlah seorang sahabatpun sangat hati-hati dalam masalah ini. Mereka tidak berani memasukan sedikitpun anggapan baik mereka kedalam syari’at yang telah disebutkan Rasulullah n kepada mereka. Para sahabat adalah generasi terbaik umat ini, dan mereka tidak berani membuat syarit baru, tetapi hanya menerima apa yang Rasulullah n sabdakan, tidak lebih juga tidak kurang. Lalu bagaimana pendapat Anda jika ada orang yang tidak dikenal kailmuannya berani menambahkan sesuatu yang baru dimana sesungguhnya sesuatu itu tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-nya?

Catatan Kaki   [ + ]

1. Beliau adalah Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah. Syaikhul Islam yang terkenal. Diantara murid beliau adalah Al-Hafizh Ibnu Katsir, Imam Adz-Dzahabi, Imam Ibnu Qayyim dan lainnya. Lihat Biografi beliau disini
2. Hadits ini rijalnya tsiqah selain Yazid bin Bisyr, dia ini majhul sebagaimana kata Abu Hatim, akan tetapi Ibn HIbban memasukannya dalam Ats-Tsiqah. Penguat baginya adalah hadits Ibn Umar dalam Bukhori no. 4153, dan dari jalan lain dalam Ahmad (2/93).
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>