Lalu.. Siapakah thaifah manshuroh itu ?

Lalu.. Siapakah thaifah manshuroh itu ?

Bentuk jama’ah yang dirahasian itu justru semakin menegaskan bahwa klaim jama’ah 354 sebagai Thaifah Manshuroh adalah jauh dari kebenaran. Hal ini dikarenkan Thaifah Manshuroh yang sesungguhnya itu tidak merahasiakan manhajnya, bahkan manhaj mereka jelas dan dikenal sebagaimana dalam hadits.

Imam Muslim v (3/1523) no. 1920:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَأَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادٌ وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur dan Abu Rabi’i Al-Ataki dan Qutaibah bin Sa’id, mereka berkata: menceritakan kepada kami Hamad dia ini Ibn Zaid dari Ayub dari Abu Qilabah dari Abi Asma dari Tsauban yang berkata, Rasulullah n bersabda: “Tidak henti-henti Thoifah[1] ...continue:

أَنَّ لَفْظَ طَائِفَةٍ يَتَنَاوَلُ الْوَاحِدَ فَمَا فَوْقَهُ وَلَا يَخْتَصُّ بِعَدَدٍ مُعَيَّنٍ وَهُوَ مَنْقُولٌ عَنِ بن عَبَّاسٍ وَغَيْرِهِ كَالنَّخَعِيِّ وَمُجَاهِدٍ نَقَلَهُ الثَّعْلَبِيُّ وَغَيْرُهُ

“Sesungguhnya lafazh Thoifah berarti satu orang atau lebih, tidak dibatasi oleh bilangan tertentu. Pendapat ini dinukil (dimangkul) dari Ibn Abbas dan lainnya, seperti An-Nakha’i, Mujahid, sebagaimana dinukil oleh Ats-Tsa’labi dan selainnya”.

Lihat juga perkataan Ibn Atsir v dalam An-Nihayah fi Gharibul Atsar (3/336), semakna dengan ini.)) dari umatku dalam keadaan dhohir diatas kebenaran, tidak membahayakann[2] ...continue orang yang melecehkan mereka sehingga datang perkaranya Allah dan mereka dalam keadaan demikian”.[8] ...continue

Al-Hafizh Ibn Hajar v berkata dalam Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari (20/ 369) tentang makna dhohir:

أَيْ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ أَيْ غَالِبُونَ ، أَوْ الْمُرَاد بِالظُّهُورِ أَنَّهُمْ غَيْر مُسْتَتِرِينَ بَلْ مَشْهُورُونَ

“Yaitu atas orang yang menyelisihi mereka, mereka menang, atau yang dimaksud dengan dhohir, sesungguhnya mereka tidak bersembunyi-sembunyi bahkan mereka dikenal”.

Yang mana pun makna dhohir ini, tetap saja menunjukan bahwa ath-Thaifah Manshurah tidak merahasiakan manhaj dan aqidah, sebab bagaimana mungkin mereka disebut menang kalau mereka sembunyi?!.

Kemudian aku mengetahui pendapat para ulama tentang hal ini, bahwa Ahli Hadits lah yang layak disebut sebagai Thaifah Manshuroh bukan selainnya, sebab mereka ini adalah kelompok yang paling mengetahui sunnah-sunnah Rasulullah n dan orang-orang yang paling antusias dalam mengamalkannya.[3] ...continue [9] ...continue Kisah mereka tidak tersembunyi, aqidah mereka jelas, dikenal lagi lantang, pendapat-pendapatnya dikutip, dan kitab-kitab mereka diakui.

Imam Al-Khatib Al-Baghdadi v meriwayatkan dalam kitabnya Syarafu Ashaab Al-Hadits dengan sanadnya sampai kepada Imam Abu Isa at-Tirmidzi v (w. 279 H) yang berkata, Muhammad ibn Ismail v (yaitu Imam Bukhari w. 256 H) berkata, Ali ibn Madini v (w. 234 H) berkata tentang hadits Thaifah Manshuroh,

هُمْ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ

“Mereka adalah ahli hadits”. [10] ...continue)

Berikut hasil scan dari kitab aslinya:

scan-an kitab

Demikian pula yang dikatakan oleh Abdullah ibn Mubarak v (w. 181 H)[4] ...continue, Ahmad ibn Hambal v (w. 241 H) [5] ...continue, Ibn Qutaibah v (w. 276 H)[6] ...continue , Ibn Hibban v (w. 354 H) [7] ...continue), dan lain-lain.

Imam Tirmidzi v (w. 279 H) dalam Sunan setelah menyebutkan hadits (no. 2167) berkata,

scan-an kitab

“Dan tafsiran al-jama’ah menurut para ulama yaitu ahli fikh, ahli ilmu dan ahli hadits…”.

Catatan Kaki   [ + ]

1. Thoifah bisa bermakna satu orang, sebagaimana kata Imam Bukhori v dalam Shahihnya Kitab Akhabaril Ahad, Bab Ma Ja’a Fi Ijaroh Khabarul Wahid… (13/231 -Fath):

وَيُسَمَّى الرَّجُلُ طَائِفَةً لِقَوْلِهِ تَعَالَى ( وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا ) . فَلَوِ اقْتَتَلَ رَجُلاَنِ دَخَلَ فِى مَعْنَى الآيَةِ

“Dan seorang dapat dipanggil Thoifah, sesuai dengan firman Ta’ala: “Dan jika ada dua golongan (Thoifah) dari orang-orang mukmin”. Sekiranya ada dua orang yang saling bunuh, maka keduanya termasuk dalam kandungan ayat tersebut”.

Ibn Hajar v kemudian berkata (Al-Fath (13/231

2. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syintiqhi v berkata,

وَقَدْ حَقَّقَ الْعُلَمَاءُ أَنَّ غَلَبَةَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَى قِسْمَيْنِ: غَلَبَةٌ بِالْحُجَّةِ وَالْبَيَانِ، وَهِيَ ثَابِتَةٌ لِجَمِيعِهِمْ، وَغَلَبَةٌ بِالسَّيْفِ وَالسِّنَانِ، وَهِيَ ثَابِتَةٌ لِخُصُوصِ الَّذِينَ أُمِرُوا مِنْهُمْ بِالْقِتَالِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan para ulama telah menyatakan bahwa kemenangan para Nabi ada dua macam: Pertama, menang dengan hujjah dan bayan (penjelasan) dan ini ditetapkan bagi seluruh Nabi, (dan kedua), menang dengan pedang dan tombak, dan ini hanya dikhususkan bagi orang-orang yang mereka memang diperintahkan berperang dijalan Allah”. Lihat Tafsir Adhwaa Al-Bayan (1/353).

3. Imam Abu Muhammad bin Qutaibah v dalam kitabnya Ta’wil Mukhtalafil Hadits pada Pasal Dikr Ashabul Hadits (1/127 –cet Maktab Al-Islami):

ثُمَّ لَمْ يَزَالُوا فِي التَّنْقِيرِ عَنِ الْأَخْبَارِ وَالْبَحْثِ لَهَا، حَتَّى فَهِمُوا صَحِيحَهَا وَسَقِيمَهَا، وَنَاسِخَهَا وَمَنْسُوخَهَا، وَعَرَفُوا مَنْ خَالَفَهَا مِنَ الْفُقَهَاءِ إِلَى الرَّأْيِ. فَنَبَهُوا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى نَجَمَ الْحَقُّ بَعْدَ أَنْ كَانَ عَافِيًا، وَبَسَقَ بَعْدَ أَنْ كَانَ دَارِسًا، وَاجْتَمَعَ بَعْدَ أَنْ كَانَ مُتَفَرِّقًا، وَانْقَادَ لِلسُّنَنِ مَنْ كَانَ عَنْهَا مُعْرِضًا، وَتَنَبَّهَ عَلَيْهَا مَنْ كَانَ عَنْهَا غَافِلًا، وَحُكِمَ بِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ كَانَ يُحْكَمُ بِقَوْلِ فُلَانٍ وَفُلَانٍ وَإِنْ كَانَ فِيهِ خِلَافٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Kemudian mereka (Ahli Hadits) terus membahas dan menyaring riwayat-riwayat tersebut sampai mereka paham, mana yang shahih dan mana yang lemah, yang nasikh dan yang mansukh, dan mereka mengetahui siapa saja dari kalangan fuqaha’ yang menyelisihi berita-berita tersebut karena ra’yu-nya, lalu memperingatkan mereka. Dengan demikian, kebenaran yang tadinya redup kembali bercahaya, yang tadinya kusam menjadi cerah, yang tadinya bercerai berai menjadi terkumpul. Demikian pula orang-orang yang tadinya menjauh dari sunnah, menjadi terikat dengannya, yang tadinya lalai menjadi ingat kembali kepadanya, dan yang dulunya berhukum dengan ucapan si fulan dan si fulan walaupun terbukti menyelisihi Rasulullah n menjadi berhukum dengan sabda Rasulullah n….”

4. Idem (1/26).
5. Idem (1/27).
6. Ta’wil Mukhtalaful Hadits 51
7. Dalam Shahih (1/14 – al-ihsan
8. Dikeluarkan juga oleh Tirmidzi (4/504) no. 2229, Ibn Majah (1/5) no. 10 dan lainnya. Telah dikeluarkan riwayat semisal dari Mughirah ibn Syu’bah, Mu’awiyah, Jabir, Imran ibn Husein, Qurrah ibn Iyas Al-Muzani, Jabir ibn Samurah, Sa’ad ibn Abi Waqash dan lain-lain sehingga mutawatir sebagaimana kata Ibn Taimiyyah dalam Iqtidha as-Shiraath al-Mustaqim.
9. Imam Al-Hakim v dalam Muqadimah Ma’rifatu Ulumul Hadits (hal 3 –cet Darul Kutub Ilmiyah) berkata:

وَلَقَدْ صَدَقَا جَمِيعًا أَنَّ أَصْحَابَ الْحَدِيثِ خَيْرُ النَّاسِ، وَكَيْفَ لَا يَكُونُونَ كَذَلِكَ، وَقَدْ نَبَذُوا الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا وَرَاءَهُمْ، وَجَعَلُوا غِذَاءَهُمُ الْكِتَابَةَ وَسَمَرَهُمُ الْمُعَارَضَةَ وَاسْتِرْوَاحَهُمُ الْمُذَاكَرَةَ

“Dan sungguh semuanya benar, sebab memang Ashabul Hadits adalah sebaik-baiknya manusia. Bagaimana tidak demikian? Mereka telah mengorbankan dunia seluruhnya di belakang mereka. Kemudian menjadikan penulisan sebagai makanan mereka, penelitian sebagai hidangan mereka, mengulang-ulangnya kembali sebagai istirahat mereka…”

10. Al-Khatib Al-Baghdadi v dalam Syarafu Ashaab Al-Hadits (1/27 – cet Darul Ihyaus Sunnah
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>