Bentuk bai’at dan jama’ah yang dibenci Khulafaur rasyidin

Bentuk bai’at dan jama’ah yang dibenci Khulafaur rasyidin

Jama’ah sirrriyyah (tersembunyi/rahasia) yang dibentuk oleh Bapak Kiyai Haji Nurhasan ditengah-tengah kaum muslimin sesungguhnya merupakan sesuatu hal besar yang pada dasarnya tidak sesuai dengan Qur’an dan Sunnah maupun Ijma para sahabat, dan hal ini menimbulkan kerancuan lain dari berbagai kerancuan dan pengakuan imamah 354, baik secara akal maupun secara nash/dalil. Mengapa demikian ? Mari kita lihat pembahasannya dibawah ini.

Umar bin Khattab a sangat keras dalam mengecam dan memperingatkan kaum muslimin agar jangan sampai terjatuh dalam cara-cara semacam ini dalam masalah imamah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibn Abi Ashim v dalam Al-Mudzakkir wa At-Tadzkir hal. 91 – cet Dar Al-Manar,

حدثنا أبو بكر بن ابي شيبة نا محمد بن بشر ثنا عبيد الله ابن عمر عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ، عَنْ أَبِيْهِ ، قَالَ : بَلَغَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَنَّ نَاسًا يَجْتَمِعُوْنَ فِيْ بَيْتِ فَاطِمَةَ فَأَتَاهَا فَقَالَ : يَا بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, مَا كَانَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَبِيْكَ وَلاَ بَعْدَ أَبِيْكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْكِ فَقَدْ بَلَغَنِيْ أَنَّ هؤُلاَءِ النَّفَرَ يَجْتَمِعُوْنَ عِنْدَكَ, وَايْمُ اللهِ لَئِنْ بَلَغَنِيْ ذَلِكَ لأَحَرِّقَنَّ عَلَيْهِمُ الْبَيْتَ, فَلَمَّا جَاءُوْا فَاطِمَةَ قَالَتْ : إِنَّ ابْنَ الْخَطَّابِ قَالَ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ فَاعِلُ ذَلِكَ ، فَتَفَرَّقُوْا حَتَّى بُوْيِعَ لأَبِيْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Menceritakan kepada kami Abu Bakar ibn Abi Syaibah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami Ubaidullah ibn Umar dari Zaid ibn Aslam dari Bapaknya, beliau berkata: “Telah sampai (suatu berita) kepada Umar bin Khathab a bahwa ada beberapa orang yang akan berkumpul di rumah Fathimah. Maka Umar mendatangi Fathimah seraya berkata, “Wahai Putri Rasulullah n, tak ada seorang pun yang yang lebih kami cintai dibandingkan ayahmu, dan tak ada orang yang paling kami cintai setelah ayahmu dibandingkan anda. Sungguh telah sampai berita kepadaku bahwa ada beberapa orang yang berkumpul di sisimu (secara rahasia). Demi Allah, jika sampai berita hal itu kepadaku, maka sungguh aku akan membakar rumah mereka”. Tatkala mereka mendatangi Fathimah, maka Fathimah berkata, “Sesungguhnya Umar bin Khathab berkata demikian dan demikian. Sungguh ia akan melakukan hal itu”. Lalu merekapun berpencar sehingga Abu Bakar a dibai’at”.[1] ...continue

Dalam riwayat lain, Umar a berkata,

أَمَا وَاللَّهِ مَا وَجَدْنَا فِيمَا حَضَرْنَا أَمْرًا هُوَ أَقْوَى مِنْ مُبَايَعَةِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَشِينَا إِنْ فَارَقْنَا الْقَوْمَ وَلَمْ تَكُنْ بَيْعَةٌ أَنْ يُحْدِثُوا بَعْدَنَا بَيْعَةً فَإِمَّا أَنْ نُتَابِعَهُمْ عَلَى مَا لَا نَرْضَى وَإِمَّا أَنْ نُخَالِفَهُمْ فَيَكُونَ فِيهِ فَسَادٌ فَمَنْ بَايَعَ أَمِيرًا عَنْ غَيْرِ مَشُورَةِ الْمُسْلِمِينَ فَلَا بَيْعَةَ لَهُ وَلَا بَيْعَةَ لِلَّذِي بَايَعَهُ تَغِرَّةً أَنْ يُقْتَلَا

Demi Allah, kami tidak menemukan hal yang lebih kuat dari pada membai’at Abu Bakar dalam pertemuan kami, kami khawatir jika orang-orang itu telah terpisah dari kami, sementara bai’at belum ada, maka mereka akan membuat sebuah pembai’atan setelah kami. Dengan demikian, boleh jadi kami akan mengikuti mereka pada sesuatu yang tidak kami ridlai atau berseberangan dengan mereka, sehingga akan terjadi kehancuran. Maka barangsiapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah kaum muslimin, sesungguhnya bai’atnya tidak sah, dan tidak ada hak membai’at bagi orang yang membai’atnya, dikhawatirkan keduanya (orang yang membai’at dan dibai’at) akan dibunuh”. (Hadits ini dalam Musnad Ahmad (1/55) no. 391 dan Shahih Bukhari no. 6329).

“Jika kalian tetap bersikeras, maka bai’atku tidak boleh menjadi bai’at yang rahasia..”Ali Radhiallahu'anhu

Sahabat Ali a pun berpendapat bahwa bai’at untuk imamah itu bukan bai’at secara rahasia. Sebagaimana diriwayatkan dari Imam Ahmad v dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah (2/573) no. 969,

قثنا إِسْحَاقُ بْنُ يُوسُفَ قثنا عَبْدُ الْمَلِكِ، يَعْنِي: ابْنَ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ عَلِيٍّ، وَعُثْمَانُ مَحْصُورٌ، قَالَ: فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: إِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَقْتُولٌ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: إِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَقْتُولٌ السَّاعَةَ، قَالَ: فَقَامَ عَلِيٌّ، قَالَ مُحَمَّدٌ: فَأَخَذْتُ بِوَسَطِهِ تَخَوُّفًا عَلَيْهِ، فَقَالَ: خَلِّ لَا أُمَّ لَكَ، قَالَ: فَأَتَى عَلِيٌّ الدَّارَ، وَقَدْ قُتِلَ الرَّجُلُ، فَأَتَى دَارَهُ فَدَخَلَهَا، وَأَغْلَقَ عَلَيْهِ بَابَهُ، فَأَتَاهُ النَّاسُ فَضَرَبُوا عَلَيْهِ الْبَابَ، فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا: إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ قَدْ قُتِلَ وَلَا بُدَّ لِلنَّاسِ مِنْ خَلِيفَةٍ، وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا أَحَقَّ بِهَا مِنْكَ، فَقَالَ لَهُمْ عَلِيٌّ: ” لَا تُرِيدُونِي، فَإِنِّي لَكُمْ وَزِيرٌ خَيْرٌ مِنِّي لَكُمْ أَمِيرٌ، فَقَالُوا: لَا وَاللَّهِ مَا نَعْلَمُ أَحَدًا أَحَقَّ بِهَا مِنْكَ، قَالَ: فَإِنْ أَبَيْتُمْ عَلَيَّ فَإِنَّ بَيْعَتِي لَا تَكُونُ سِرًّا، وَلَكِنْ أَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَمَنْ شَاءَ أَنْ يُبَايِعَنِي بَايَعَنِي، قَالَ: فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَبَايَعَهُ النَّاسُ.

“Sungguh telah menceritakan kepada kami Ishaq ibn Yusuf, sungguh menceritakan kepada kami Abdul Malik yakni Ibn Abi Sulaiman dari Salamah ibn Kuhail dari Salim ibn Abi Al-Ja’di dari Muhammad ibn Hanafiyah ia berkata, “Aku bersama Ali saat Utsman dikepung, lalu datanglah seorang laki-laki dan berkata, “Amirul mukminin telah terbunuh”. Kemudian datang laki-laki lain dan berkata, “Sesungguhnya amirul mukminin baru saja terbunuh”. Ali segera bangkit namun aku cepat mencegahnya karena khawatir keselamatan beliau. Beliau berkata, “Celaka kamu ini!”. Ali segera menuju kediaman Utsman dan ternyata Utsman telah terbunuh. Beliau pulang ke rumah lalu mengunci pintu. Orang-orang mendatangi beliau sambil mengedor-ngedor pintu lalu menerobos masuk menemui beliau. Mereka berkata, “Lelaki ini (Utsman) telah terbunuh. Sedangkan orang-orang harus punya khalifah. Dan kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Tidak, kalian tidak menghendaki diriku, menjadi wazir bagi kalian lebih aku sukai daripada menjadi amir”. Mereka berkata, “Tidak demi Allah kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Jika kalian tetap bersikeras, maka bai’atku tidak boleh menjadi bai’at yang rahasia. Akan tetapi aku akan ke mesjid, barangsiapa ingin membai’atku maka silahkan ia membai’atku”. Ali pun pergi ke mesjid dan orang-orang pun membai’at beliau”.[2] ...continue

Andaikata mereka berdalil dengan perkara Rasulullah n pada Bai’at Aqobah (secara rahasia), maka mereka telah salah dalam hal ini. Sebab bai’at tersebut merupakan kekhususan bagi beliau n sebagaimana dipahami dari isi bai’at tersebut.[3] ...continue Rasulullah n bersabda pada Bai’at Aqabah:

تُبَايِعُونِي عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي النَّشَاطِ وَالْكَسَلِ وَعَلَى النَّفَقَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ وَعَلَى الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ وَعَلَى أَنْ تَقُولُوا فِي اللَّهِ لَا تَأْخُذُكُمْ فِيهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ وَعَلَى أَنْ تَنْصُرُونِي إِذَا قَدِمْتُ يَثْرِبَ فَتَمْنَعُونِي مِمَّا تَمْنَعُونَ مِنْهُ أَنْفُسَكُمْ وَأَزْوَاجَكُمْ وَأَبْنَاءَكُمْ وَلَكُمْ الْجَنَّةُ

“Kalian berbaiat kepadaku untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan semangat maupun malas, dan berinfak baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Kalian berkata karena Allah, untuk tidak takut karena Allah terhadap orang yang mencela. Kalian menolongku jika saya datang ke Yatsrib, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak kalian, dan kalian akan mendapatkan surga”.[4] ...continue

Perlu diperhatikan juga, bahwa baiat tersebut diberikan kepada Rasulullah n sedang beliau adalah orang yang dipersiapkan oleh Rabb semesta alam untuk menjadi amir bagi orang-orang mukmin. Siapakah di jaman sekarang ini orang yang mengaku seperti beliau di dalam persiapan Allah Subhanahu wa Ta’ala ?!!!.

” ..Dengar dan taatlah (kepada pemerintah), lazimilah keterbukaan, dan waspadailah sirriyah (ketertutupan/ kerahasiaan)..”HR. Imam Ath-Thahawi Juz 6 Hal 152 No. 2230

Bahkan Rasulullah n sendiri telah memerintahkan kepada umatnya agar menjauhi gerakan-gerakan rahasia, dan memerintah mereka agar tetap sabar dalam mentaati para penguasa.

Imam Ath-Thahawi v dalam Musykilul Atsar (6/152) no. 2230 meriwayatkan,

بَابٌ بَيَانُ مُشْكِلِ مَا رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَمْرِهِ بِالْعَلَانِيَةِ وَتَحْذِيرِهِ مِنْ السِّرِّ : حَدَّثَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي دَاوُد قَالَ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ قَالَ ثنا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجُمَحِيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَوْصِنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ] اعبد الله و[ لَا تُشْرِكُ بِاَللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَحُجُّ وَتَعْتَمِرُ وَتَسْمَعُ وَتُطِيعُ وَعَلَيْك بِالْعَلَانِيَةِ وَإِيَّاكَ وَالسِّرَّ.

Bab penjelasan tentang persoalan apa yang diriwayatkan dari Rasulullah n mengenai perintah beliau agar melazimi keterbukaan dan peringatan beliau dari bahaya ketertutupan: Menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abu Dawud beliau berkata: menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ash-Shabah, menceritakan kepada kami Sa’id ibn Abdurahman Al-Jamhi dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi dari Ibnu Umar a yang berkata: Datang seorang laki-laki kepada Nabi n dan berkata: “Ya Rasulullah nasihati saya”. Beliau n bersabda: “Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya Azza wa Jalla dengan sesuatupun, dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan puasalah dibulan ramadhan, hajilah ke Baitullah dan umrohlah. Dengar dan taatlah (kepada pemerintah), lazimilah keterbukaan, dan waspadailah sirriyah (ketertutupan/ kerahasiaan)”.[5] ...continue

Catatan Kaki   [ + ]

1. Dan telah meriwayatkan pula Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (8/572/4), semisal ini.
2. Atsar ini dikeluarkan juga oleh Abu Bakar Al-Khalal v dalam As-Sunnah no. 629 dan no. 630, kemudian aku melihat bahwa Al-Ajuri v mengeluarkannya juga dalam Asy-Syari’ah no. 1194. Isnad atsar ini hasan, karena Abdul Malik bin Abi Sulaiman shaduq, telah ditsiqahkan oleh lebih dari satu orang.
3. Lihat Al-Bai’atu Baianas Sunnati wal Bid’ati Indal Jama’atil Islamiyah, Syaikh Ali Hasan Al-Halabi حفظه الله
4. Ahmad (3/322) no. 14496.
5. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibn Abi Ashim v dalam Kitabus Sunnah (no 887) tambahan dalam kurung darinya. Hadits ini dikuatkan oleh Imam Al-Albani v dalam Zhilal Al-Jannah (no. 1070), beliau berkata: “Isnadnya jayyid(bagus)”. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 165, beliau berkata, “Shahih dengan syarat Bukhori dan Muslim”, dan disetujui adz-Dzahabi, lalu diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 3975), semuanya dari jalan Muhammad bin Sabah. Dan Al-Hasan juga meriwayatkan hadits ini secara mauquf pada Umar.
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>