Penguasa kita tidaklah lepas dari kesalahan.

Penguasa kita tidaklah lepas dari kesalahan.

Para penguasa negeri ini bukanlah orang yang maksum (terlepas dari kesalahan) andaipun ada beberapa perbuatan mereka yang melenceng dari sunnah tidak lantas kita harus keluar dari ketaatan kepadanya. Toh setiap orangpun tidak lepas dari kesalahan.

مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Dan barangsiapa dipimpin oleh seorang pemimpin, kemudian dia melihat pemimpinnya bermaksiat kepada Allah, hendaknya ia membenci dari perbuatannya dan janganlah ia melepas dari ketaatan kepadanya” (Muslim no. 1855).

Dalam hadits lain disebutkan,

عَنْ زِيَادِ بْنِ كُسَيْبٍ العَدَوِيِّ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ أَبِي بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ ابْنِ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ، فَقَالَ أَبُو بِلَالٍ: انْظُرُوا إِلَى أَمِيرِنَا يَلْبَسُ ثِيَابَ الفُسَّاقِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ: اسْكُتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ»

Dari Ziyad bin Kusaib Al-’Adawi ia berkata : Aku bersama Abu Bakrah dibawah mimbar Ibnu ’Amir. Sedangkan Ibnu ’Amir berkhutbah dengan pakaian yang tipis. Tiba-tiba Abu Bilal (Abu Bilal adalah Mirdas bin Udayah salah seorang tokoh Khawarij –pen) berkata : ”Lihatlah pemimpin kita itu, dia berpakaian dengan pakaiannya orang fasiq”. (Mendengar perkataan itu) Abu Bakrah (seorang sahabat –pen) berkata kepada Abu Bilal : ”Diam kamu !! Aku mendengar Rasulullah n bersabda : “Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di bumi, maka Allah akan hinakan orang itu”. (Tirmidzi no. 2224)

Hadits diatas menggambarkan bahwa pengikut hawa nafsu tertipu dengan anggapan keshalehan dirinya sendiri, terperdaya dengan anggapan banyaknya ibadah yang pernah diperbuatnya, dan su’udzon kepada orang-orang yang Allah telah berikan kelebihan atas mereka baik berupa harta, kedudukan ataupun ilmu. Diantara contoh nyata tipu daya setan ini adalah perilaku Khawarij dalam penentangan dan penghinaan mereka kepada penguasa kaum muslimin. Mereka tidak menerima kekurangan-kekurangan para pemimpin itu seakan-akan mereka sendiri maksum. Setiap kebijakan para pemimpin selalu saja salah dimata mereka karena memang sifat su’udzon menetap dalam hati mereka dengan nyaman.

“Nasehat kepada penguasa negeri agar berhukum dengan hukum Allah adalah amalan yang mulia. Namun kalau memang Allah Ta’ala belum takdirkan para penguasa kaum muslimin berhukum secara keseluruhan dengan hukum Allah, maka dengan nasehat tersebut kewajiban kita telah terlaksana, adapun dosanya ada pada penguasa-penguasa tersebut.”

Saya pernah mendengar dari sebagian Jama’ah 354 perkataan semisal Abu Bilal diatas. Kalau yang demikian itu diungkapkan oleh orang awam, mungkin bisa sedikit dimaklumi, akan tetapi jika muncul dari orang yang mengaku memiliki ilmu ad-din, ini sungguh mengherankan. Sampai-sampai mereka mengkafirkan para penguasa itu hanya karena mengenakan pakaian ngelembreh (isbal).[1] ...continue Padahal seharusnya mereka menasehati dengan menemui sang pemimpin secara empat mata, jika pemimpin itu mau menerima nasihat kita Alhamdulillah, jika tidak maka kewajiban kita sudah ditunaikan.

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ جَلَدَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ صَاحِبَ دَارِيَا حِينَ فُتِحَتْ فَأَغْلَظَ لَهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ الْقَوْلَ حَتَّى غَضِبَ عِيَاضٌ ثُمَّ مَكَثَ لَيَالِيَ فَأَتَاهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ فَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ هِشَامٌ لِعِيَاضٍ أَلَمْ تَسْمَعْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا أَشَدَّهُمْ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا لِلنَّاسِ فَقَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ يَا هِشَامُ بْنَ حَكِيمٍ قَدْ سَمِعْنَا مَا سَمِعْتَ وَرَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ أَوَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Mughiroh telah menceritakan kepada kami Shafwan telah menceritakan kepadaku Syuraih bin ‘Ubaid Al Hadlromi dan yang lainnya berkata; ‘Iyadl bin Ghonim mencambuk orang Dariya ketika ditaklukkan. Hisyam bin Hakim meninggikan suaranya kepadanya untuk menegur sehingga ‘Iyadl marah. (‘Iyadl) tinggal beberapa hari, lalu Hisyam bin Hakim mendatanginya, memberikan alasan. Hisyam berkata kepada ‘Iyadl, tidakkah kau mendengar Nabi n bersabda: ” Orang yang paling keras siksaannya adalah orang-orang yang paling keras menyiksa manusia di dunia?.” ‘Iyadl bin ghanim berkata; Wahai Hisyam bin Hakim, kami pernah mendengar apa yang kau dengar dan kami juga melihat apa yang kau lihat, namun tidakkah kau mendengar Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika penguasa itu mau menerima, itulah yang diharapkan, jika tidak mau menerima maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (Imam Ahmad dalam Musnad 3/403).

Hadits diatas menjadi hujjah bagi orang yang mengaku mengajak kepada persatuan (jama’ah), akan tetapi justru mereka lah yang memecahbelah. Kalau benar orang-orang yang memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin itu menghendaki persatuan kaum muslimin, jalan yang harus ditempuh seharusnya adalah menasehati para penguasa kaum muslimin agar berhukum dengan hukum Allah dan menasehati kaum muslimin agar mentaati para penguasa selain perintah maksiat. Bukannya menyeru kepada imam baru, jama’ah-jama’ah hizbiyah dan persatuan semu yang hakikatnya adalah perpecahan yang nyata.

Nasehat kepada penguasa agar berhukum dengan hukum Allah adalah amalan yang mulia. Namun kalau memang Allah Ta’ala belum takdirkan para penguasa kaum muslimin berhukum secara keseluruhan dengan hukum Allah, maka dengan nasehat tersebut kewajiban kita telah terlaksana, adapun dosanya ada pada penguasa-penguasa tersebut.

Sebagaimana hadits yang telah lalu,

” وَيْحَكَ يَا ابْنَ جُمْهَانَ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ، عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ  إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ، فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ، فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ، وَإِلَّا فَدَعْهُ، فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ “.

“Duhai celaka kamu wahai Ibnu Jumhan, hendaklah kamu selalu bersama As-Sawadil A’zham, hendaklah kamu selalu bersama As-Sawadil A’zham. Jika sang penguasa mau mendengar sesuatu darimu, maka datangilah rumahnya dan beritahulah dia apa-apa yang kamu ketahui, jika ia mau menerimanya, itulah yang diharapkan, dan jika tidak, maka tinggalkanlah, karena kamu tidak lebih tahu daripada dia.” (Imam Ahmad v dalam Musnad 4/382)

Hadits diatas juga merupakan hujjah bagi yang suka mengekspos kesalahan-kesalahan penguasa didepan umum, berdemo dijalanan, menyebarkannya dan memprovokasi untuk melawan penguasa. Sebab kalau memang benar orang tersebut menginginkan kebaikan dan dilandasi semangat keikhlasan dan ingin memberi nasihat, seharusnya orang itu mengamalkan apa yang Nabi n perintahkan, “jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua”, dengan demikian mudah-mudahan lebih bisa diterima.

Catatan Kaki   [ + ]

1. Padahal imam bithonah mereka sendiri pun pakaiannya terbukti tasyabuh dan syuhroh sebagaimana nanti akan datang pembahasannya, insyaAlloh.
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>