Penguasa negeri ini dipilih dengan cara yang tidak islami..?!! Lalu ?!!

Penguasa negeri ini dipilih dengan cara yang tidak islami..?!! Lalu ?!!

Mereka mengatakan bahwa para penguasa itu selain tidak dibai’at mereka juga diangkat melalui pemilu atau demokrasi yang bukan berasal dari Islam.

Penulis katakan, bukankah telah jelas sabda Rasulullah n sebelumnya,

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ

“Akan ada sesudahku para imam yang tidak mengambil petunjukku. Mereka juga tidak mengambil sunnahku. Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia”.

قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ

Ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana kami harus berbuat jika kami mendapati hal itu ya Rasulullah?”.

قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

Beliau menjawab, “Dengar dan taatilah amir tersebut, meskipun mereka memukul punggungmu dan merampas hartamu, maka dengarlah dan taatlah”.[1] ...continue

Dalam hadits diatas, Rasulullah n tetap memerintahkan kita untuk mentaati penguasa itu walaupun tidak mengambil petunjuk dan sunnah Nabi n. Bahkan Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia. Bukankah penguasa yang berkuasa tanpa menggunakan ‘ritual bai’at’ atau “diangkat melalui pemilu/demokrasi” termasuk dalam cakupan “tidak mengambil petunjukku, Mereka juga tidak mengambil sunnahku”?.

Para sahabat pun taat kepada pemerintahnya walaupun Khalifah yang memerintah mereka mendapatkan keimamannya dengan pedang (Pembunuhan) sebagaimana dizaman Ibnu Umar dan lainnya. Dan kekejian dan kejahatan apa yang lebih buruk dari pembunuhan sesama Muslim?, namun saat orang itu telah berkuasa maka para sahabat taat kepadanya, dan berlepas diri dari cara-cara tidak syar’i yang dilakukannya demi mendapat kekuasaan.

Yahya bin Yahya v berkata, “Sungguh telah berbai’at Ibnu Umar kepada Abdul Malik bin Marwan padahal Abdul Malik mengambil kekuasaan dengan pedang. Disampaikan kepada ku dari Malik dari Ibnu Umar bahwa dia menulis surat kepada Marwan dan memerintahkan orang untuk mendengar dan taat diatas Kitab dan Sunnah Nabi-Nya”.[2] ...continue

Ibnu Umar a berkata,

” نَحْنُ مَعَ مَنْ غَلَبَ”

“Saya bersama orang yang menang (mengalahkan)”.[3] ...continue

Jama’ahnya Bapak Kiyai Nur Hasan berkata lagi, “Bagaimana jika yang kemudian berkuasa adalah seorang perempuan walaupun muslim? Bukankah seorang perempuan tidak boleh menjadi imam?”.

Kami katakan, memang perempuan tidak boleh menjadi imam. Akan tetapi jika kekuasaan telah dilimpahkan kepadanya dan dia telah mantap berkuasa dinegeri itu maka ketaatan menjadi wajib kepadanya selama dia muslim dan menegakan sholat, demi menghilangkan mudhorot yang lebih besar. Dalilnya adalah sabda beliau n agar mentaati penguasa walaupun yang terpilih adalah seorang budak Habsyi, padahal seperti diketahui sebagaimana halnya wanita, budak tidak berhak menjadi imam[4] ...continue,

إِنَّ خَلِيلِي أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ

“Kekasihku mewasiatkanku untuk selalu mendengar dan taat sekalipun (yang menjadi imam adalah) seorang budak yang cacat” (Muslim no. 1837).

“…Dalilnya adalah sabda beliau n agar mentaati penguasa walaupun yang terpilih adalah seorang budak Habsyi, padahal seperti diketahui sebagaimana halnya wanita, budak tidak berhak menjadi imam…”

Dalam riwayat lain,

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ

“Dengarlah dan taatilah sekalipun yang terpilih sebagai penguasa kalian adalah seorang budak habsyi, yang kepalanya seperti kismis”. (Bukhori no. 7142)

Mereka berkata lagi, ”Bagaimana Kalau Penguasa Kita Orang Kafir?”.

Jawabnya: Kita tidak berandai-andai sesuatu yang belum terjadi di Indonesia. Tetapi memang hal ini telah terjadi dibelahan bumi yang lain dan para ulama di Mekkah dan Madinah telah menjawab masalah ini, bahwa yang demikian membutuhkan perincian.

“Dengarlah dan taatilah sekalipun yang terpilih sebagai penguasa kalian adalah seorang budak habsyi, yang kepalanya seperti kismis”.HR. Bukhari no. 7142

Seperti: Apakah pemerintah itu benar-benar kafir atau hanya praduga orang yang bertanya saja?. Bagaimana keadaan orang Islam di negara itu, apakah dalam keadaan lemah atau kuat?. Apakah mereka bisa hijroh ke Darul Islam? Dan lain sebagainya dengan memperhatikan maslahat tidaknya. Dan keputusan masalah ini tidak diserahkan kecuali kepada tokoh-tokoh masyarakat kaum muslimin yang ‘alim tentang ilmu agama dan waqi’. Tidak lah mesti kita terburu-buru mengangkat imam tandingan yang karenanya tertumpah darah kaum muslimin, terjadinya berbagai fitnah dan kerusakan-kerusakan. Tidak pada tempatnya jika masalah ini dijelaskan disini karena akan melenceng dari tema utama kita. Wallahu’alam.

Catatan Kaki   [ + ]

1. Dengan lafazh ini adalah riwayat Muslim (3/1476) no. 1847, Thabrani dalam Al-Ausath (3/190) no. 2893, dan Al-Hakim (4/547) no. 8533, beliau berkata, “Shahih isnad’.
2. Asy-Syathibi v dalam Al-I’tisham 2/626 –Dar Ibnu Affan.
3. Al-Qadhi Abu Ya’la v dalam Ahkam As-Sulthaniyah h. 23
4. Yang benar itu, pemimpin kaum muslimin mesti dari laki-laki Quraisy sebagaimana dalam hadits shahih:

إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ فِي قُرَيْشٍ لَا يُعَادِيهِمْ أَحَدٌ إِلَّا كَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ مَا أَقَامُوا الدِّينَ

“Sesungguhnya urusan (khilafah/pemerintahan) ini berada pada suku Quraisy dan tidak ada seorangpun yang menentang mereka melainkan Allah Ta’ala pasti akan menelungkupkan wajahnya ke tanah selama mereka (Quraisy) menegakkan ad-din (agama) ” (Bukhori no. 3500).

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>