Penguasa negeri ini tidak menggunakan “Ritual Bai’at” syar’i

Penguasa negeri ini tidak menggunakan “Ritual Bai’at” syar’i

Jama’ah Bapak Kiyai Haji Nur Hasan beralasan bahwa para penguasa di negeri ini tidak dibai’at, artinya tidak menggunakan “ritual bai’at” yang syar’i menurut mereka. Sedangkan Rasulullah n bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada ikatan baiat di lehernya maka dia mati sebagaimananya matinya orang jahiliyyah (yang tidak memiliki penguasa)”  (ini lafazh Thabrani 19/334 no. 769).

Jadi mereka mengangkat  salah satu dari kelompoknya untuk dibai’at, dengan harapan terlepas dari ancaman hadits ini, walaupun yang dibai’at ini bukan penguasa!!!.

Ini adalah sebuah kesalahan, sebab yang diperintahkan oleh Rasulullah n untuk dibai’at adalah imam tertinggi yaitu penguasa. Sebagaimana ditunjukan oleh hadits berikut ini,

Imam Abu Dawud v no. 4250 berkata:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ رَبِّ الْكَعْبَةِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا رَقَبَةَ الآخَرِ »

Menceritakan kepada kami Musadad menceritakan kepada kami Isa bin Yunus, menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Zaid bin Wahab dari Abdurrahman bin Abd Rabil Ka’bah dari Abdullah bin Amru sesungguhnya Nabi n bersabda: “Dan Barangsiapa memberi bai’at kepada seorang imam dengan menjabat tangannya dan dilaksanakannya dengan sepenuh hati, hendaknya ia mentaatinya dengan segenap kemampuan. Jika datang yang lain ingin merebut keimamannya penggalah leher (imam) yang lain”.[1] ...continue

Asy-Syaikh Al-Muhadits Ahmad An-Najmi [2] ...continue v mengatakan,

الجهة الأولى: أنّ البيعة حق للإمام الأعلى فمن أخذ البيعة غير الإمام الأعلى فقد ابتدع في الدين بدعة مذمومة وقد قال النبي  (ورجل بايع إماماً لم يبايعه إلا لدنيا فإن أعطاه منها وفّى له وإن لم يعطه لم يف) وقوله: (سيكون عليكم أمراء فيكثرون قالوا فما تأمرنا قال فوا ببيعة الأول فالأول) وقوله (إذا بويع خليفتان فاقتلوا الآخر منهما).

“Kritikan pertama, Bai’at merupakan hak penguasa tertinggi. Barangsiapa yang mengambil bai’at bukan pada penguasa tertinggi, sungguh dia telah berbuat bid’ah yang tercela di dalam agama. Nabi n bersabda, “Dan seorang laki-laki yang membai’at imamnya hanya untuk perkara dunia[3] ...continue, jika imamnya memberikan ia loyal, jika tidak maka tidak”. Dan Sabda Rasulullah n, “Akan muncul kepada kalian banyak amir”. Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?. “Hendaklah engkau mengikuti bai’at yang awal (berkuasa) dan yang awal (berkuasa) berikutnya”. dan sabda beliau n, “Jika dibai’at dua khalifah, maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya”.[4] ...continue

Syaikh Kibar Ulama Saudi, Shalih Fauzan[5] ...continue حفظه الله mengatakan,

البيعة لا تكون إلا لولي أمر المسلمين ، وهذه البيعات المتعددة مبتدعة ، وهي من إفرازات الاختلاف ، والواجب على المسلمين الذين هم في ولاية واحدة ، وفي مملكة واحدة أن تكون بيعتهم واحدة لإمام واحد ، لا تجوز المبايعات المتعددة ، وإنما هذه من إفرازات اختلافات هذا العصر ، ومن الجهل بالدين .

“Bai’at hanya diberikan kepada penguasa kaum muslimin. Bai’at-bai’at yang berbilang bilang dan bid’ah itu akibat dari perpecahan.[6] ...continue Setiap kaum muslimin yang berada dalam satu pemerintahan dan satu kekuasaan wajib memberikan satu bai’at kepada satu orang pemimpin. Tidak dibenarkan memunculkan bai’at – bai’at lain. Bai’at – bai’at tersebut merupakan akibat dari perpecahan kaum muslimin pada zaman ini dan akibat kejahilan tentang agama”.[7] ...continue)

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan

Ahli Hadits Zaman ini, Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad Nasiruddin Al-Albani v mengatakan,

أَمَّا مُبَايَعَةُ حِزْبٍ مِنَ الْأَحْزَابِ لِفَرْدٍ لِرَئِيسٍ لَهُ، أَوْ جَمَاعَةٍ مِنَ الْجَمَاعَاتِ لِرَئِيْسِهِمْ وَهَكَذَا، فَهَذَا فِي الْوَاقِعِ مِنَ الْبِدَعِ الْعَصْرِيِّةِ الَّتِي فَشَتْ فِي الزَّمَنِ الْحَاضِرِ، وَذَلِكَ بِلَا شَكٍّ مِمَّا يُثِيرُ فِتَنًا كَثِيرَةً جِدًّا بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ

“Adapun pembai’atan yang dilakukan kelompok dari kelompok-kelompok itu, dari anggotanya terhadap pemimpinnya, atau satu jamaah kepada pemimpinnya, dan yang semisalnya, pada kenyataannya termasuk bid’ah yang baru muncul pada masa kini. Tidak diragukan lagi, bahwa ini dapat menimbulkan berbagai fitnah yang sangat banyak sekali di kalangan kaum muslimin”.[8] ...continue

Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Ahli Hadits dari Afrika, imam dan pengajar di Haramain, Syaikh Dr. Taqiyuddin Al-Hilali((Beliau adalah Abu Shukayb Muhammad Taqi ibn Abdul Qadir ibn Muhammad Thoyyib ibn Hilal. Beliau adalah murid dari Syaikh Abdul Dhohir Abu Samah, Syaikh Abdurrazaq Hamzah, Syaikh Abdurahman Al-Mubarakfuri, Syaikh Muhammad Amin Asy-Syanqithi dan lainnya. Ahli hadits yang piawai dan pernah menjadi Imam dan mengajar di Masjid Nabawi dan Masjidil Harom. Diantara tulisannya adalah ‘Al-Hadiyyah Al-Haadiyah fi Radd ‘ala Firqah At-Tijaniyah’ yang mengisahkan hijrahnya kepada manhaj salaf dari Sufi Tijani. meninggal tahun 1407 H (1987 M).))v berkata,

ولا تشرع البيعة في الإسلام إلا للنبي صلى الله عليه وسلم  ولخليفة المسلمين

“Tidak Disyari’atkam bai’at didalam Islam kecuali kepada Nabi n dan khalifah (penguasa) kaum muslimin”.[9] ...continue

Jika mereka mengatakan: “Akan tetapi imam tertinggi itu yaitu para penguasa tidak melangsungkan bai’at dan tidak dibai’at!!!. Mereka diangkat melalui pemilu atau demokrasi yang bukan berasal dari Islam.[10] ...continue Jadi mereka tidak layak diakui dan ditaati sebagai imam yang dimaksudkan dalam hadits-hadits !!!!”.

Kami katakan yang dimaksud dengan “tidak ada ikatan baiat di lehernya” dalam hadits yang diatas tadi, maknanya adalah tidak memiliki penguasa, karena memberontak dari penguasa (keluar dari jama’ah), atau keluar dari ketaatan kepada penguasa. Bukan dalam arti mesti tiap-tiap orang berbai’at pada imamnya.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah n dalam lafazh lain,

مَنْ مَاتَ بِغَيْرِ إِمَامٍ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati tidak mempunyai Imam kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah”. (ini lafazh Ahmad (4/96 no. 16922).

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa keluar dari ta’at dan berpisah dari al-jama’ah, lalu dia mati maka matinya seperti mati jahiliyah”. (Muslim no. 1848).

Oleh sebab itulah Nabi n menyebut orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak memiliki ikatan baiat dengan kematian jahiliyyah karena orang-orang jahiliyyah mereka memiliki sifat khas yaitu sombong untuk patuh kepada seorang pemimpin. Mereka tidak mau terikat dengan ketaatan kepada seorang pemimpin.

Oleh sebab itu dengan sempurnanya ketaatan kepada para pemimpin maka telah sempurna bai’at kita. Tanpa wajib tiap-tiap orang berbai’at kepada para pemimpin itu.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab v ditanya tentang makna hadits diatas, beliau menjawab:

أرجو أنه لا يجب على كل إنسان المبايعة، وأنه إذا دخل تحت الطاعة وانقاد، ورأى أنه لا يجوز الخروج على الإمام، ولا معصيته في غير معصية الله، أن ذلك كاف، وإنما وصف صلى الله عليه وسلم ميتته بالميتة الجاهلية، لأن أهل الجاهلية كانوا يأنفون من الانقياد لواحد منهم، ولا يرضون بالدخول في طاعة واحد؛ فشبه حال من لم يدخل في جماعة المسلمين بحال أهل الجاهلية في هذا المعنى، والله أعلم.

“Aku berharap bahwa berbaiat (secara langsung kepada penguasa) bukanlah kewajiban tiap-tiap orang. Sesungguhnya jika seorang itu telah masuk ke dalam ketaatan dan kepatuhan (kepada seorang penguasa) dan dia berkeyakinan bahwa dia tidak boleh menentang dan memberontak kepada seorang penguasa serta tidak boleh durhaka kepada aturan penguasa selama aturan tersebut tidaklah bernilai maksiat kepada Allah, maka itu sudah cukup baginya. Orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak memiliki ikatan baiat (sebagaimana penjelasan di atas) kematiannya Nabi n sebut dengan kematian jahiliyyah karena orang-orang jahiliyyah itu memiliki sifat khas yaitu sombong untuk patuh kepada seorang pemimpin. Mereka tidak mau terikat dengan ketaatan kepada seorang pemimpin. Oleh karena itu, dalam hadits di atas Nabi n serupakan orang yang tidak mau masuk dalam jamaah kaum muslimin sebagaimana orang-orang jahiliah dari sisi ini,  wallahu’alam”.[11] ...continue

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah v:

وَمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ وَرَسُولُهُ مِنْ طَاعَةِ وُلَاةِ الْأُمُورِ وَمُنَاصَحَتِهِمْ وَاجِبٌ عَلَى الْإِنْسَانِ وَإِنْ لَمْ يُعَاهِدْهُمْ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَحْلِفْ لَهُمْ الْأَيْمَانَ الْمُؤَكَّدَةَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالزَّكَاةُ وَالصِّيَامُ وَحَجُّ الْبَيْتِ. وَغَيْرُ ذَلِكَ مِمَّا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ وَرَسُولُهُ مِنْ الطَّاعَةِ؛ ..

“Apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya n dari ketaatan kepada penguasa dan menasehati mereka adalah perkara yang wajib atas setiap manusia, walaupun dia tidak pernah mengikat perjanjian (baiat) kepadanya, dan walaupun dia tidak bersumpah dengan berbagai sumpah yang menekankan. Sebagaimana yang telah diwajibkan atasnya  sholat lima waktu, zakat, puasa dan haji dan selainnya dari apa-apa yang diperintahkan Alloh dan Rasul-Nya dari ketaatan (yakni kita wajib melaksanakan sholat, zakat dsb itu walaupun kita tidak dibai’at untuk itu –pen)”. (Majmu’ Al-Fatawa 35/9).

Catatan Kaki   [ + ]

1. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 1844, Nasai (7/152, 154), Ibn Majah no. 4956 dan Ibn Hibban no. 5916.
2. Beliau adalah Ahmad bin Yahya bin Muhammad an-Najmi, mufti Arab Saudi bagian selatan. Beliau banyak memiliki karya-karya tulis ilmiah. Beliau wafat pada hari rabu sore, 23 Juli 2008 atau 19 Rajab 1429 H.
3. Syaikh menggunakan hadits ini untuk membantah orang yang membolehkan membai’at imam-imam ‘dakwah’.
4. Dalam kitab beliau, al-Mawrid al-Adh’b az-Zilal fima intaqada ‘ala ba’adil-manahij ad-da’wiyyah min al-‘Aqa’id wal-‘A’amal hal. 214.
5. Beliau adalah wakil mufti Arab Saudi saat ini, dan salah satu ulama senior yang tersisa.
6. Yakni setiap yang berbeda pendapat dalam masalah agama lantas memisahkan diri dan membai’at para pemimpinnya.
7. Dari Al-Muntaqo min Fatawi asy-Syaikh Shalih Fauzan (1/367
8. Dengarkan dalam Silsilah Al-Huda wan Nur, kaset no. 288
9. Dalam kitab Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’at At-Tabligh karya Syaikh Hamud At-Tuwaijiri v hal. 138
10. Ini akan ada penjelasannya didepan insyaAlloh.
11. Al Duror al Saniyyah fi al Ajwibah al Najdiyyah (9/11).
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>