Pemerintah tidak sepenuhnya menggunakan hukum Allah

Pemerintah tidak sepenuhnya menggunakan hukum Allah

Jama’ah 354 menolak untuk mengakui penguasa muslim sebagai pemimpin (imam atau amir) yang dimaksudkan hadits untuk ditaati, dengan alasan bahwa mereka tidak sepenuhnya menggunakan hukum Allah, banyak berbuat maksyiat dan lain sebagainya dari kejelekan-kejelakan. Padahal Rasulullah n sendiri telah bersabda,

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ

“Akan ada sesudahku para imam yang tidak mengambil petunjukku. Mereka juga tidak mengambil sunnahku. Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia”.

قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ

Ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana kami harus berbuat jika kami mendapati hal itu ya Rasulullah?”.

قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

Beliau menjawab, “Dengar dan taatilah amir tersebut, meskipun mereka memukul punggungmu dan merampas hartamu, maka dengarlah dan taatlah”.[1] ...continue

Ketaatan kita kepada mereka pada perintah yang bukan maksyiat bukan berarti kita setuju dengan segala kerusakan dan kemungkaran yang diperbuat oleh para pemimpin itu, bahkan oleh siapa saja kerusakan dan kemungkaran itu diperbuat, maka kitapun wajib mengingkarinya, minimal dengan hati kita.

Sebagaimana dalam hadits,

إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ، فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ، فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ» ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: «لَا، مَا صَلَّوْا» ، أَيْ مَنْ كَرِهَ بِقَلْبِهِ وَأَنْكَرَ بِقَلْبِهِ

“Sesungguhnya akan datang kepada kalian para amir, kalian mengenal dan mengingkarinya, barangsiapa membencinya maka ia telah berlepas diri, dan barangsiapa mengingkarinya maka dia telah selamat, akan tetapi siapa yang ridho dan mengikuti”. Ada yang bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah kita tidak bunuh saja para pemimpin itu?”. Beliau menjawab, “Jangan, selagi mereka masih sholat”, maksudnya membenci dan mengingkari dengan hatinya saja” (HR. Musim no. 63).[2] ...continue

Dan sebagaimana hadits yang telah lalu,

عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ، قُلْتُ: قَدْ تَعْلَمُ مَا فِيهِمْ؟ فَقَالَ: عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَأَطِيعُوَا تَهْتَدُوا

“Dan wajib atas kamu untuk tetap komitmen dengan as-sawadul a’zham (penguasa Muslim dan masyarakatnya)”. Saya berkata, “Engkau tahu apa yang ada pada para penguasa itu (berupa kejelekan-kejelekan)”. Beliau menjawab, “Kewajiban mereka adalah apa yang dibebankan kepada mereka dan kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu, maka taatlah kepada mereka niscaya kamu akan mendapat petunjuk”. (Ibnu Nasr v dalam As-Sunnah h. 22 no. 55).

Sikap ulama Mekkah dan Madinah telah jelas dalam masalah ini, hal itu terangkum dari apa yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin [3] ...continue v mengenai Negara Al-Jaza’ir yang notabene mirip dengan Indonesia dari segi bentuk pemerintahan dan hukum yang berlaku didalamnya.

Beliau ditanya,

السائل: بالنسبة للحاكم الجزائري يا شيخ! الآن الشباب الذين طلعوا من السجون أكثرُهم لا زال فيهم بعض الدَّخَن، حتى وإن طلعوا من السجون وعُفي عنهم، لكن لا زالوا يتكلَّمون في مسألة التكفير، ومسألة تكفير الحاكم بالعين، وأن هذا الحاكم الذي في الجزائر حاكمٌ كافرٌ، ولا بيعة له، ولا سمع ولا طاعة لا في معروفٍ ولا في منكرٍ؛ لأنَّهم يُكفِّرونهم، ويجعلون الجزائر ـ يا شيخ! ـ أرض ـ يعني ـ أرض كفر.

Penanya: Hubungannya dengan pemerintah Al-Jaza’ir –wahai Syaikh-, sekarang para pemuda (yakni, anggota FIS) yang telah keluar dari penjara. Kebanyakan diantara mereka masih ada pada mereka sedikit perasaan dendam sehingga walaupun mereka telah keluar dari penjara, dan telah dimaafkan, tapi mereka senantiasa berbicara masalah takfir (pengkafiran), dan masalah pengkafiran pemerintah dengan main tunjuk, dan bahwa Pemimpin (pemerintah) yang ada di Al-Jaza’ir adalah pemimpin kafir, dan tak ada bai’at baginya, tak perlu didengar dan ditaati, baik dalam perkara ma’ruf maupun mungkar, karena mereka (pemuda FIS) telah mengkafirkan pemimpin, dan menganggap Al-Jaza’ir sebagai negara kafir.

الشيخ: دار كفر؟

Syaikh: (mereka menganggapnya) Negara Kafir?

السائل: إي، دار كفر، نعم يا شيخ! لأنَّهم يقولون: إنَّ القوانينَ التي فيها قوانين غربية، ليست بقوانين إسلامية، فما نصيحتُكم أولاً لهؤلاء الشباب؟ وهل للحاكم الجزائري بَيْعَة، علماً ـ يا شيخ! ـ بأنَّه يأتي يعتمِر ويُظهرُ شعائرَ الإسلام؟

Penanya: Betul, negara kafir, wahai Syaikh! Karena mereka (pemuda FIS) berkata, “Sesungguhnya undang-undang yang ada di Al-Jaza’ir adalah undang-undang barat, bukan undang-undang Islam”. Pertama, apa nasihat anda kepada para pemuda tersebut? Apakah ada bai’at bagi pemerintah Al-Jaza’ir, dan perlu diketahui –wahai Syaikh- bahwa pemimpin itu biasa melakukan umrah, dan menampakkan syi’ar-syi’ar Islam.

الشيخ: يُصلِّي أو لا يُصلِّي؟

Syaikh: Dia sholat atau tidak?

السائل: يُصلِّي يا شيخ!

Penanya: Dia sholat, wahai Syaikh!

الشيخ: إذن هو مسلمٌ.

Syaikh: Kalau begitu, ia (pemimpin) itu muslim.

السائل: وأتى واعتمر هنا من حوالي عشرين يوماً أو شهر، كان هنا في المملكة.

Penanya: Dia datang kesini (Saudi), dan berumrah sekitar 20 hari atau sebulan.[4] ...continue Dia pernah di KSA (Kerajaan Saudi Arabia).

الشيخ: ما دام يُصلِّي فهو مسلمٌ، ولا يجوز تكفيرُه، ولهذا لَمَّا سُئل النَّبِيُّ  عن الخروج على الحُكَّام قال: ] لا ما صلَّوا [، فلا يجوز الخروجُ عليه، ولا يجوزُ تكفيرُه، من كفَّره فهذا … بتكفيره يُريد أن تعودَ المسألة جَذَعاً، فله بيعة، وهو حاكمٌ شرعيٌّ.

أما موضوعُ القوانين، فالقوانينُ يجب قبول الحقِّ الذي فيها؛ لأنَّ قبول الحقِّ واجبٌ على كلِّ إنسانٍ، حتى لو جاء بها أكفرُ الناس، فقد قال الله عزَّ وجلَّ: {وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللهُ أَمَرَنَا بِهَا} فقال الله تعالى: {قُلْ إِنَّ اللهَ لاَ يَأْمُرُ بِالفَحْشَآءِ} [الأعراف 28]. وسكت عن قولهم: {وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا}؛ لأنَّها حقٌّ، فإذا كان تعالى قبِل كلمةَ الحقِّ من المشركين فهذا دليلٌ على أنَّ كلمةَ الحقِّ تُقبلُ من كلِّ واحد، وكذلك في قصة الشيطان لَمَّا قال لأبي هريرة: ] إنَّك إذا قرأتَ آيةَ الكرسي لَم يزل عليك من الله حافظ ولا يَقرَبْك الشيطان حتى تُصبح [ قبِل ذلك النَّبِيُّ صلى الله عليه وعلى آله وسلَّم، وكذلك اليهودي الذي قال: ] إنَّا نجد في التوراة أنَّ الله جعل السموات على إصبع، والأرضين على إصبع ـ وذكر الحديث ـ فضحك النَّبِيُّ صلى الله عليه وعلى آله وسلم حتى بَدَت أنيابُه أو نواجِذُه؛ تصديقاً لقوله، وقرأ: {وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ} [الزمر 67] [.

فالحقُّ الذي في القوانين ـ وإن كـان مِن وَضعِ البشرِ ـ مقبولٌ، لا لأنَّه قول فلان وفلان أو وضْعُ فلان و فلان، ولكن لأنَّه حقٌّ.

وأمَّا ما فيه من خطأ، فهذا يُمكنُ تعديلُه باجتماع أهل الحلِّ العقدِ والعلماء والوُجهاء، ودراسة القوانين، فيُرفَضُ ما خالف الحقَّ، ويُقبلُ ما يُوافِقُ الحقَّ.

أمَّا أن يُكفَّرَ الحاكم لأجل هذا؟!

مع أنَّ الجزائر كم بقيت مستعمَرة للفرنسيين؟

Syaikh: Selama ia masih sholat, maka ia adalah muslim, tak boleh dikafirkan. Oleh karena ini, Nabi n tatkala ditanya tentang pemberontakan melawan pemerintah, maka beliau bersabda, “Jangan, selama ia masih sholat”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Imaroh (62)

Tidak boleh memberontak melawan pemimpin itu, tak boleh mengkafirkannya. Barangsiapa yang mengkafirkannya, maka dia (yang mengkafirkannya) dengan perbuatannya ini menginginkan masalah kembali dari awal. Baginya ada bai’at, dia adalah pemimpin yang syar’iy.

Adapun masalah undang-undang, maka undang-undang wajib diterima kebenaran yang terdapat di dalamnya, karena menerima kebenaran adalah wajib bagi setiap orang, walapun kebenaran itu dibawa oleh manusia yang paling kafir. Allah -Azza wa Jalla- berfirman, “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya”.

Lalu Allah berfirman, Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (QS. Al-A’raaf: 28)

Allah -Ta’ala- mendiamkan ucapan mereka, “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu”.

Karena itu adalah benar. Jika Allah -Ta’ala- menerima kalimat kebenaran dari orang-orang musyrik, maka ini adalah dalil bahwa kalimat kebenaran diterima dari setiap orang. Demikian pula kisah setan, tatkala ia berkata kepada Abu Hurairah, “Sesungguhnya jika kau membaca ayat Kursi, maka senantiasa akan ada padamu seorang penjaga dari Allah, dan setan tak akan mendekatimu sampai waktu pagi”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Bad’il Kholqi (3033)]

Ucapan itu diterima oleh Nabi – n – (dari setan,- pen). Demikian pula orang-orang Yahudi yang berkata, “Sesungguhnya kami telah menemukan dalam Taurat bahwa Allah meletakkan langit pada sebuah jari, dan bumi pada sebuah jari –diapun menyebutkan hadits. Kemudian Nabi n tertawa sampai gigi geraham beliau tampak karena membenarkan ucapan orang itu. Beliaupun membaca ayat: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim]

Jadi, kebenaran yang terdapat dalam undang-undang buatan manusia adalah diterima, walaupun berasal dari buatan manusia. (Kebenaran itu diterima) bukan karena itu adalah pendapat fulan, dan fulan, atau buatan fulan, dan fulan. Tapi karena ia adalah kebenaran. Adapun kesalahan yang terdapat di dalamnya, maka itu mungkin bisa dibetulkan dengan berkumpulnya para ahlul halli wal aqdi, para ulama, dan para pemuka, dan mempelajari undang-undang itu. Maka yang menyelisihi kebenaran ditolak, dan yang sesuai kebenaran diterima. Adapun pemerintah dikafirkan, karena masalah seperti ini, (maka tak sepantasnya)! Padahal Al-Jaza’ir berapa lama dijajah oleh orang-orang Perancis?

السائل: 130 سنة.

Penanya: Selama 130 tahun [5] ...continue

الشيخ: 130سنة! طيِّب! هل يُمكن أن يُغيَّر هذا القانون الذي دوَّنه الفرنسيَّون بين عشيَّة وضحاها؟! لا يُمكن. أهمُّ شيء: عليكم بإطفاء هذه الفتنة بما تستطيعون، بكلِّ ما تستطيعون، نسأل الله أن يقيَ المسلمين شرَّ الفتن.

Syaikh: 130 tahun ?! Baiklah, apakah mungkin undang-undang ini yang telah dirancang oleh orang-orang Perancis, bisa diubah antara sore dan pagi saja? Ini tak mungkin!! Perkara yang terpenting, wajib bagi kalian memadamkan fitnah (masalah takfir) ini sesuai kemampuan kalian, dengan segala yang kalian mampu. Kami memohon kepada Allah agar Dia melindungi kaum muslimin dari kejelekan fitnah”.[6] ...continue

Catatan Kaki   [ + ]

1. Dengan lafazh ini adalah riwayat Muslim (3/1476) no. 1847, Thabrani dalam Al-Ausath (3/190) no. 2893, dan Al-Hakim (4/547) no. 8533, beliau berkata, “Shahih isnad’.
2. Adapun mengingkari dan menasehati penguasa itu -bagi orang yang kemungkinan didengar nasihatnya oleh sang penguasa- ada metode dan caranya tersendiri, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Rasulullah n dan akan kami bahas ditempatnya.
3. Lihat biografi singkat beliau disini
4. Penulis menduga semua presiden kita juga pernah pula umroh/haji.
5. Konon bahkan Indonesia kurang lebih 350 tahun dijajah oleh Belanda dan lainnya.
6. Dinukil dari Kitab Fatawa Al-Ulama’ Al-Akabir fi maa Uhdiro min Dima’ fil Jaza’ir, disusun oleh Syaikh Abdul Malik Ramdani Al-Jazairi حفظه الله.
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>