Pemerintah kita sekarang hanya mengurusi urusan dunia saja

Pemerintah kita sekarang hanya mengurusi urusan dunia saja

Jika mereka mengatakan bahwa para penguasa Muslim itu hanya mengurusi dunia saja dan tidak mengurusi agama mereka, maka itu adalah kedustaan yang jelas. Memangnya siapa yang mengurus kelancaran jama’ah haji, urusan hari raya, menjamin keamanan sholat berjama’ah, sholat jum’at dan ibadah-ibadah lainnya?. Memang benar, mereka bukan sosok pemimpin yang ideal, akan tetapi demikianlah yang diperintahkan oleh Rasulullah n dalam hadits-hadits, diantaranya:

Riwayat Adi bin Hatim a , oleh Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah (no. 886) :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، ثنا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ قَيْسٍ الْكِنْدِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ، قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ، فَذَكَرَ الشَّرَّ، فَقَالَ: «اتَّقُوا اللَّهَ، وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا»

Menceritakan kepada kami Hasan ibn Ali, menceritakan kepada kami Umar ibn Hafz ibn ’Ghayats, menceritakan kepada kami Bapak, dari Utsman ibn Qais Al-Kindi dari Bapaknya dari Adi bin Hatim a bahwasanya dia berkata : Kami berkata : “Wahai Rasululloh, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan kepada pemimpin yang bertaqwa, tetapi pemimpin yang melakukan ini dan itu -yaitu kejelekan-kejelekan-“. Maka Rasululloh n bersabda: “Bertaqwalah kalian kepada Alloh dan mendengarlah dan taatlah”.

Dishohihkan oleh Syaikh al-Albani v dalam Dhilalul Jannah.

Riwayat Abu Umammah a oleh Ibnu Nasr v dalam As-Sunnah (h. 22 no. 55) :

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، أَنْبَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ، ثنا قَطَنٌ أَبُو الْهَيْثَمِ، ثنا أَبُو غَالِبٍ، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ أَبِي أُمَامَةَ ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: أَرَأَيْتَ قَوْلَ اللَّهِ: {هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ} [آل عمران: 7] مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هُمُ الْخَوَارِجُ، ثُمَّ قَالَ: عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ، قُلْتُ: قَدْ تَعْلَمُ مَا فِيهِمْ؟ فَقَالَ: عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَأَطِيعُوَا تَهْتَدُوا، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ افْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ، وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تَزِيدُ عَلَيْهَا فِرْقَةً وَهِيَ فِي الْجَنَّةِ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: {يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ} [آل عمران: 106] تَلَا إِلَى قَوْلِهِ: {هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ} [المجادلة: 17] فَقُلْتُ: مَنْ هُمْ؟ فَقَالَ: الْخَوَارِجُ، فَقُلْتُ: أَسَمِعْتَ ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Menceritakan kepada kami Ishaq, memberitakan kepada kami An-Nadr bin Syumail, menceritakan kepada kami Qathan Abul Haitsami ia berkata, “Telah bercerita kepada kami Abu Ghalib katanya, “Saya berada disisi Abu Umammah a ketika seseorang berkata kepadanya: “Apa pendapat anda mengenai ayat : “Dialah yang telah menurunkan kepada kalian Al-Kitab diantaranya (berisi) ayat-ayat muhkam itulah Ummul Kitab, dan ayat-ayat lainnya adalah mutasyabihat, maka adapun orang-orang yang dalam hati mereka ada zaigh (condong kepada kesesatan) maka mereka akan mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat” (Qs. Ali Imran ayat 7). Siapakah mereka ini (yang hatinya mengandung zaigh)?. Beliau berkata, “Mereka adalah Khawarij (orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada penguasa)”. Kemudian beliau melanjutkan, “Dan wajib atas kamu untuk tetap komitmen dengan as-sawadul a’zham (penguasa Muslim dan masyarakatnya)[1] ...continue”. Saya berkata, “Engkau tahu apa yang ada pada mereka (penguasa Muslim)”. Beliau menjawab, “Kewajiban mereka adalah apa yang dibebankan kepada mereka dan kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu, maka taatlah kepada mereka niscaya kamu akan mendapat petunjuk”. Kemudian beliau a berkata: Sesungguhnya Bani Isroil terpecah menjadi 71 golongan semuanya dalam neraka, dan sesungguhnya umatku lebih banyak satu golongan dari mereka dan satu didalam surga, itulah firman Allah Ta’ala:  “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri….. sampai firman Allah: “Mereka kekal didalamnya”. (Ali Imron 106-107[2] ...continue Ditanyakan kepada beliau: “Siapa mereka (yang hitam wajahnya)?”. Beliau berkata: “Al-Khawarij”. Ditanyakan lagi: “Apakah hal ini anda didengar dari Rasulullah n?”. Beliau menjawab, “Aku mendengarnya dari Rasulullah n”. [3] ...continue

Riwayat Abdullah bin Abu Aufa a oleh Imam Ahmad v (4/382):

حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا الْحَشْرَجُ بْنُ نُبَاتَةَ الْعَبْسِيُّ كُوفِيٌّ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ جُمْهَانَ قَالَ: أَتَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى وَهُوَ مَحْجُوبُ الْبَصَرِ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، قَالَ لِي: مَنْ أَنْتَ؟ فَقُلْتُ: أَنَا سَعِيدُ بْنُ جُمْهَانَ، قَالَ: فَمَا فَعَلَ وَالِدُكَ؟ قَالَ: قُلْتُ: قَتَلَتْهُ الْأَزَارِقَةُ، قَالَ: لَعَنَ اللهُ الْأَزَارِقَةَ، لَعَنَ اللهُ الْأَزَارِقَةَ، حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أَنَّهُمْ كِلَابُ النَّارِ “، قَالَ: قُلْتُ: الْأَزَارِقَةُ وَحْدَهُمْ أَمِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا؟ قَالَ: ” بَلِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا “. قَالَ: قُلْتُ: فَإِنَّ السُّلْطَانَ يَظْلِمُ النَّاسَ، وَيَفْعَلُ بِهِمْ، قَالَ: فَتَنَاوَلَ يَدِي فَغَمَزَهَا بِيَدِهِ غَمْزَةً شَدِيدَةً ، ثُمَّ قَالَ: ” وَيْحَكَ يَا ابْنَ جُمْهَانَ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ، عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ  إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ، فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ، فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ، وَإِلَّا فَدَعْهُ، فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ “.

Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr Telah menceritakan kepada kami Al Hasyraj Ibnu Nubatah Al Absi Kufi telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Jumhan ia berkata, saya menemui Abdullah bin Abu Aufa, ketika itu ia sudah menjadi buta. Kemudian saya mengucapkan salam kepadanya, ia bertanya, “Siapakah Anda?” saya menjawab, “Aku adalah Sa’id bin Jumhan.” Ia bertanya lagi, “Apa yang terjadi pada ayahmu?” saya menjawab, “Ia telah dibunuh oleh kelompok Al-Azariqah (salah satu jama’ah khawarij –pen).” Ia pun berkata, “Semoga Allah melaknati jama’ah Al-Azariqah. Semoga Allah melaknati jama’ah Al-Azariqah. Rasulullah n telah menceritakan kepada kami, bahwa mereka itu adalah anjing-anjingnya neraka.” Saya bertanya, “Apakah hanya jama’ah Al-Azariqah saja, ataukah semua kaum Khawarij?” ia menjawab, “Ya, benar. Semua kaum Khawarij.” Saya berkata, “(Tetapi) Sesungguhnya para penguasa tengah menzhalimi rakyat, dan berbuat tidak adil kepada mereka.” Lalu Abdullah bin Abu Aufa menggandeng tanganku dan menggenggamnya dengan sangat kuat, kemudian berkata, “Duhai celaka kamu wahai Ibnu Jumhan, hendaklah kamu selalu bersama As-Sawadil A’zham, hendaklah kamu selalu bersama As-Sawadil A’zham. Jika sang penguasa mau mendengar sesuatu darimu, maka datangilah rumahnya dan beritahulah dia apa-apa yang kamu ketahui, jika ia mau menerimanya, itulah yang diharapkan, dan jika tidak, maka tinggalkanlah, karena kamu tidak lebih tahu daripada dia.”

Dan riwayat lainnya…

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di v (w. 1376 H) berkata,

وأمر بطاعة أولي الأمر وهم: الولاة على الناس، من الأمراء والحكام والمفتين، فإنه لا يستقيم للناس أمر دينهم ودنياهم إلا بطاعتهم والانقياد لهم

“Perintah Allah untuk taat kepada ulil amri, dan ulil amri maksudnya orang-orang yang mengurusi urusan manusia, dari kalangan pemerintah, juru hukum dan mufti, karena sesungguhnya tidak akan selesai urusan manusia baik itu urusan agama maupun urusan dunia kecuali dengan ketaatan dan keterikatan kepada mereka”. (Tafsir Taisir Karimir Rahman 2/89).

“Berapa banyak kedzaliman dilenyapkan Allah dengan perantaraan penguasa…. Dalam urusan agama kita sebagai rahmat-Nya, maupun dalam urusan dunia kita”Abdullah bin Mubarak

 

Imam Abu Ishaq Asy-Syairozi v (w. 476 H/ 1083 M) tatkala menafsirkan ayat,

أطِيعُوا الله وَأَطيعُوا الرَّسُول وأولي الْأَمر مِنْكُم

Berkata,

قُلْنَا المُرَاد بِالْآيَةِ الطَّاعَة فِي أُمُور الدُّنْيَا والتجهيز والغزوات والسرايات وَغير ذَلِك وَالدَّلِيل أَنه خص بِهِ أولي الْأَمر وَالَّذِي يخْتَص بِهِ أولو الْأَمر مَا ذَكرْنَاهُ من تجهيز الجيوش وتدبير الْأُمُور

“Kami katakan: Maksud ayat ini adalah ketaatan dalam urusan-urusan dunia, urusan-urusan ketentaraan, peperangan, kepolisian dan lain sebagainya. Inilah dalil bahwa Ulul Amri diberi kekhususan di sini, sedangkan kekhususan-kekhususan Ulul Amri adalah apa yang telah kami sebutkan, berupa mempersiapkan tentara dan mengurusi berbagai permasalahan.” (At-Tabshiroh  Fi Ushul Fiqh (I/ 407)).

Imam Abdullah bin Mubarok v bersyair,

كم يدْفع الله بالسلطان مظْلمَة … فِي ديننَا رَحْمَة مِنْهُ ودنيانا

لَوْلَا الْخَلِيفَة لم تأمن لنا سبل … وَكَانَ أضعفنا نهبا لأقوانا

Berapa banyak kedzaliman dilenyapkan Allah dengan perantaraan penguasa…. Dalam urusan agama kita sebagai rahmat-Nya, maupun dalam urusan dunia kita

Seandainya bukan karena khalifah, tidak akan aman jalan-jalan kita…… Dan orang kuat diantara kita akan menindas orang yang lemah diantara kita

(Badi’ul Masalik hal. 108 – Ibnu Azraq)

 

Catatan Kaki   [ + ]

1. Berkata Imam Ibnul Atsir dalam an-Nihayah Fi Ghoribil Hadis (2/1029): “Dan yang dimaksudkan dengan [‘Alaikum bis-Sawadil A’zham = Hendaknya kamu bersama As-Sawadil A’zham] yaitu sekumpulan besar manusia yang berhimpun di dalam mentaati sultan (penguasa) dan berjalan di atas jalan yang benar (lurus)”.
2. Lengkapnya ayat itu: artinya: “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya”.
3. Lihat juga Ibn Bathoh v dalam Al-Ibanah (2/606) no. 783, hadits ini diriwayatkan oleh yang lainnya secara ringkas. Hadits ini hasan karena Abu Ghalib, dan selainnya rijalnya tsiqah. Lihat Al-Haitsami dalam Al-Majma (6/234) dan Al-Albani dalam Al-Misykat (no. 3554).
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>