Makna Imam, Sulthon, Khalifah, Malik, Amir dan Wali dalam hadits-hadits

Makna Imam, Sulthon, Khalifah, Malik, Amir dan Wali dalam hadits-hadits

Yang dimaksud Imam, Sulthon, Khalifah, Malik, Amir dan Wali dalam hadits-hadits, kaum muslimin sejak dahulu telah ma’lum bahwa maknanya satu yaitu penguasa. Kepada mereka lah kita diperintahkan untuk taat kepada perintah mereka yang tidak maksiyat, selama mereka masih menegakan sholat ditengah-tengah kita.

Kita perhatikan para Khalifaturasyidin, apakah mereka penguasa atau hanya mengaku-ngaku sebagai khalifah saja?.

Kita perhatikan juga mulkan-mulkan (raja-raja) yang bergelar khalifah dan menggantikan masa khulafaturasyidin, apakah mereka penguasa atau hanya mengaku-ngaku khalifah saja?.

Imam Jama’ah 354 merasa berhak menggunakan hadits-hadits tentang mati jahiliyah dan semacamnya yang sebenarnya hadits-hadits tersebut diperuntukan untuk Imam, Khalifah, Malik, Amir atau Wali dalam arti sebagai penguasa atau pemimpin tertinggi dalam suatu wilayah (bilad). Bukan untuk imam-imam yang tidak memiliki kekuasaan, kekuatan dan kemampuan sedikit pun.

Perhatikan hadits-hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْجَعْدُ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ الْعُطَارِدِيُّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Menceritakan kepada kami Syaiban ibn Farukh, menceritakan kepada kami Abdul Warits, menceritakan kepada kami Al-Hamd menceritakan kepada kami Abu Raja’i Al-‘Uthoridi dari Ibn Abbas dari Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang ia benci pada pemimpinnya (amirnya) maka hendaklah ia bersabar atasnya, karena tidak ada seorangpun dari manusia yang keluar dari penguasa (sulthon) walaupun sejengkal (sedikit) saja kemudian ia mati diatasnya, maka matinya seperti mati jahiliyah”. (Shahih Muslim no. 1849) [1] ...continue

Jadi yang dimaksud dengan amir yang diancam mati jahiliyah itu adalah sulthon (yang artinya dalam bahasa indonesia adalah penguasa). Begitu pula dengan istilah imam, sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim v dalam Shahihnya (no. 1841),

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ مُسْلِمٍ حَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنِي وَرْقَاءُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  :إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

Menceritakan kepada kami Ibrohim dari Muslim menceritakan kepada saya Zuhair ibn Harb, menceritakan kepada kami Syababah, menceritakan kepada saya Warqo’ dari Abu Zinad dari Al-A’roj dari Abu Hurairah dari Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya imam itu adalah perisai[2] ...continue, digunakan untuk berperang dari belakangnya dan sebagai pelindung. Bila ia memerintahkan dengan ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan berbuat adil, maka ia akan mendapatkan pahala, dan bila ia memerintahkan dengan selainnya, maka hanya dia lah yang menanggung dosanya”.[9] ...continue

Jika dilihat dari hadist diatas maka timbul pertanyaan: ” Apakah Amir Jama’ah 354 memiliki kemampuan ataupun wewenang dalam memerintahkan perang jika negara kita diserang musuh ?” Tentu saja jawabannya tidak, maka apakah benar amir jama’ah 354 adalah amir yang dimaksud dalam hadist-hadist?

Dalam hadits lain diterangkan,

إنّ السُّلطّانَ ظِلُّ الله فِي الْأرْضِ فَمَنْ أَهاَنَهُ أَهاَنَهُ الله وَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ الله

“Sesungguhnya Sulthon adalah naungan Allah di muka bumi [3] ...continue, maka barang siapa yang menghinakannya maka Allah akan menghinakan-nya dan barang siapa memulyakannya maka Allah akan memulyakannya”[4] ...continue

Bukankah jama’ahnya Haji Nur Hasan telah sering membahas Kitab Kanzul Ummal pada bab imaroh?.[5] ...continue Disana terdapat banyak tambahan untuk hadits diatas –walaupun tambahan itu sebenarnya dhaif- yang menegaskan bahwa imam itu adalah penguasa?. Akan tetapi mereka tidak paham atau pura-pura tidak paham sehingga tidak mengambil hikmah dari hadits-hadits tersebut.

Misalkan dari jalan Abu Hurairah a:

السُّلْطَانُ ظِلُّ الله في الأَرْضِ يَأْوِي إِلَيْهِ الضَّعِيفُ وَبِهِ يَنْتَصِرُ المَظلُومُ، وَمَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله في الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ الله يوْمَ الْقِيَامَةِ

“Penguasa (sulthon) adalah naungannya Alloh di bumi, kepadanya mengadu orang-orang yang lemah dan dengannya ditolong orang-orang yang teraniaya dan barangsiapa yang memuliakan penguasanya Alloh di dunia maka Alloh akan memuliakan orang itu di hari qiamat”. [6] ...continue

Dari jalan Anas a:

السُّلْطَانُ ظِلُّ الله فِي الأَرْضِ فَإِذَا دَخَلَ أحَدُكُمْ بَلَداً لَيْسَ بِهِ سُلْطَانٌ فَلاَ يُقِيمَنَّ بِهِ

“Penguasa adalah naungannya Alloh di bumi maka ketika salah satu kalian memasuki negara (wilayah) yang di dalamnya tidak ada penguasanya maka janganlah dia bertempat di negara itu”. [7] ...continue

Dalam riwayat lain :

إذا مَرَرْتَ بِبَلْدَةٍ لَيْسَ فِيها سُلْطانٌ فلا تَدْخُلْها إنَّما السُّلْطانُ ظِلُّ الله ورُمْحُهُ في الأَرْضِ

“Ketika lewat pada suatu negara (wilayah) tidak ada didalamnya penguasa maka jangan masuk ke dalamnya, sesungguhnya penguasa naungan Allah dan tombak-Nya didalam buminya”.[8] ...continue

Akan tetapi tambahan-tambahan dari Al-Muttaqi v semuanya dha’if. Penulis menyebutkannya hanya sebagai ibroh saja bagi Jama’ah Haji Nur Hasan, agar mereka sadar bahwa dari kitab-kitab yang telah “dimanqulkan” dalam jama’ah ini saja sebenarnya telah jelas makna imam, amir, khalifah atau sulthon itu adalah penguasa.

Adapun Para ulama, sejak dahulu tidak memahami istilah Imam, Sulthon, Khalifah, Malik, Amir atau Wali dalam hadits-hadits masalah imaroh kecuali untuk penguasa. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Latif bin Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh v (w. 1293 H) dalam Majmu Atur Rasail Wal Masail An-Najdiyah (3/168):

وأهل العلم …. متفقون على طاعة من تغلب عليهم في المعروف، يرون نفوذ أحكامه، وصحة إمامته، لا يختلف في ذلك اثنان، ويرون المنع من الخروج عليهم بالسيف وتفريق الأمة، وإن كان الأئمة فسقة ما لم يروا كفراً بواحاً

“Dan Ahli Ilmu (ulama) … telah sepakat untuk taat dalam kebaikan kepada orang yang menguasainya, melaksanakan undang-undangnya dan menganggap kepemimpinannya itu sah. Tidak ada yang berselisih didalam hal ini. Mereka melarang khuruj (berontak) kepada penguasa tersebut dan juga melarang memecah belah umat, walaupun penguasanya fasik, selagi mereka tidak menampakkan kekufuran yang nyata”.

Lihat juga pernyataan ijma semisal itu dalam Fathul Baari (13/7) dan Ad-Durar As-Sunniyah fil Ajwibah an-Najdiyah (7/239).

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah v (w. 728 H/ 1328 M) dalam Kitab Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah (1/115) mengatakan,

وَهُوَ أَنَّ النَّبِيّ  n أَمَرَ بِطَاعَةِ الْأَئِمَّةِ الْمَوْجُودِينَ [الْمَعْلُومِينَ] الَّذِينَ لَهُمْ سُلْطَانٌ يَقْدِرُونَ بِهِ عَلَى سِيَاسَةِ النَّاسِ لَا بِطَاعَةِ مَعْدُومٍ وَلَا مَجْهُولٍ، وَلَا مَنْ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ، وَلَا قُدْرَةٌ  عَلَى شَيْءٍ أَصْلًا

“Sesungguhnya Nabi Muhammad n telah memerintahkan agar kita mentaati pemimpin yang ada lagi diketahui, yaitu orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk mengatur manusia, tidak memerintah kita untuk mentaati pemimpin yang tidak jelas (ma’dum) dan tidak diketahui keberadaannya (majhul), juga bukan kepada orang yang tidak mempunyai kekuasaan dan kemampuan sedikitpun”.

Jelas ?.

Catatan Kaki   [ + ]

1. Diriwayatkan pula oleh Bukhari no. 7054.
2. Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim (12/230) berkata:

كَالسِّتْرِ ؛ لِأَنَّهُ يَمْنَع الْعَدُوّ مِنْ أَذَى الْمُسْلِمِينَ ، وَيَمْنَع النَّاس بَعْضهمْ مِنْ بَعْض ، وَيَحْمِي بَيْضَة الْإِسْلَام ، وَيَتَّقِيه النَّاس وَيَخَافُونَ سَطْوَته ، وَمَعْنَى يُقَاتَل مِنْ وَرَائِهِ أَيْ : يُقَاتَل مَعَهُ الْكُفَّار وَالْبُغَاة وَالْخَوَارِج وَسَائِر أَهْل الْفَسَاد وَالظُّلْم مُطْلَقًا

“(Seorang pemimpin/imam) bagaikan perisai, karena ia menghalangi musuh dari mengganggu umat islam, dan mencegah kejahatan sebagian masyarakat kepada sebagian lainnya, membela keutuhan negara Islam, ditakuti oleh masyarakat, karena mereka khawatir akan hukumannya. Dan makna ‘digunakan untuk berperang dibelakangnya‘ ialah orang-orang kafir diperangi bersamanya, demikian juga halnya dengan para pemberontak, kaum khawarij, dan seluruh pelaku kerusakan dan kelaliman”.

3. Syaikh Ibn Barjas v menjelaskan makna “Sulthon adalah naungan Allah”, dalam Kitab Mu’amalatul Hukkam:

قوله { السلطان ظل الله }، أي يدفع الله به الأذى عن الناس، كما أن الظل يدفع أذى حر الشمس

“Yang dimaksud “Sulthon adalah naungan Allah” yaitu Allah meyingkirkan dengan perantaraan sulthon hal-hal yang menyakiti manusia, sebagaimana naungan yang melindungi dari terik sinar mentari”.

4. Diriwayatkan oleh Imam Ibn Abi Ashim dalam Kitab Sunnah no. 855, hadits ini dikeluarkan juga oleh Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 7121. Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam Dzilalul Jannah.
5. Kitab ini adalah karya Syaikh Ali ibn Husamudin ibn Abdul Malik ibn Qadhi Khan Al-Muttaqi (w. 975 H). Akan tetapi pada cetakan Jama’ah Nur Hasan kitab ini dipotong hanya pada bab imaroh tanpa disebutkan pengarangnya. Syaikh Al-Muttaqi ini banyak menulis kitab yang merupakan penyempurnaan tulisan-tulisannya Imam Sayuthi seperti Kanz al-Ummal, Minhaj Al-Ummal, Al-Burhan fi Alamat Mahdi Akhir Zaman dan lainnya.
6. Kanzul Ummal no. 14582. Hadits ini dinisbatkan kepada Ibnu Annajjar tapi sanadnya dha’if, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami no. 3352 dan Silsilah Adh-Dha’ifah (4/162) no. 1663, menurut beliau hadits ini diriwayatkan juga oleh Muhammad ibn Yusuf dalam Juz’un min Al-Amali (1/143), adapun yang diingkari dalam sanadnya adalah Ahmad ibn Abdurrahman. Hadits ini disebutkan dalam Kasyful Khafa (1/456) no. 1487.
7. Kanzul Ummal no. 14584. Hadits ini dinisbatkan kepada Abu Assyaikh dengan sanad yang dha’if seperti disebutkan Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami no. 3349.

[9] Hadits ini dikeluarkan oleh Baihaqi dalam Sunan Al-Kabir (8/162) no. 16427 dan Syu’ibul Iman (6/18) no. 7375. Didalamnya ada ar-Rabi’i ibn Shabih dia ini dha’if sebagaimana dinukil oleh Al-Manawi (1/441).

8. Hadits ini dikeluarkan oleh Baihaqi dalam Sunan Al-Kabir (8/162) no. 16427 dan Syu’ibul Iman (6/18) no. 7375. Didalamnya ada ar-Rabi’i ibn Shabih dia ini dha’if sebagaimana dinukil oleh Al-Manawi (1/441).
9. Diriwayatkan pula oleh Bukhari no. 2737, Nasai (7/155) no. 4196 dan lainnya.
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>