Hanya satu imam, bukan dua

Hanya satu imam, bukan dua

Jika kita meridhoi pemahaman Bapak Kiyai Haji Nur Hasan dan Jama’ah 354 bahwa imam akhirat itu berbeda dengan imam dunia, maka akan menyelisihi dalil dan akal sehat. Muncullah pertanyaan semacam ini, apakah Rasulullah n mengajarkan untuk memiliki dua imam ?!! (dunia dan akhirat). Jika dahulu Rasulullah n imam akhirat, siapa imam dunia dizaman beliau n ?. Padahal telah jelas bahwa Rasulullah n mengajarkan agar kaum muslimin memiliki satu imam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Thabroni v dalam Mu’jam Al-Kabir (19/314) no. 710 – Tahqiq Hamdi Abdul Majid As-Salafi,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَدَقَةَ الْبَغْدَادِيُّ، ثنا الْهَيْثَمُ بْنُ مَرْوَانَ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا زَيْدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عُبَيْدٍ، ثنا سَعِيدُ بْنُ بِشْرٍ، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ، قَالَ لِمُعَاوِيَةَ فِي الْكَلَامِ الَّذِي جَرَى بَيْنَهُمَا فِي بَيْعَةِ يَزِيدَ: وَأَنْتَ يَا مُعَاوِيَةُ أَخْبَرَتْنِي أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَتَانِ فَاقْتُلُوا أَحَدَهُمَا»

Menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Shodaqah al-Baghdadi, menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Marwan Ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami Ziyad bin Yahya bin Ubaid menceritakan kepada kami Sa’id bin Bisyr dari Abi Bisyr dari Sa’id bin Jubair sesungguhnya Abdullah bin al-Zubair berkata kepada Mu’awiyah dalam percakapan yang dilakukan keduanya tentang pembai’atan Yazid, “Dan sesungguhnya wahai Mu’awiyah, telah mengabarkan kepada kami Rasulullah n, “Ketika ada dibumi ini dua khalifah, maka bunuhlah salah satu dari keduanya”. [1] ...continue

“..Ketika ada dibumi ini dua khalifah, maka bunuhlah salah satu dari keduanya..”

Bukankah pada hadits ini terdapat pemahaman wajibnya memiliki satu imam?.

Syaikh Muhammad Shalih Utsaimin v [2] ...continue berkata,

الْبَيْعَةُ الَّتِي تَكُونُ فِي بَعْضِ )الْجَمَاعَاتِ( بِيْعَةٌ شَاذَّةٌ مُنْكَرَةٌ، يَعْنِي أَنَّهَا تَتَضَمَّنُ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَجْعَلُ لِنَفْسِهِ إِمَامَيْنِ وَسُلْطَانَيْنِ، الْإِمَامُ الْأَعْظَمِ الَّذِي هُوَ إِمَامٌ عَلَى جَمِيعِ الْبِلَادِ، وَالْإِمَامُ الَّذِي يُبَايِعُهُ وَتُفْضِي أَيْضًا إِلَى شَرٍّ لِلْخُرُوجِ عَلَى الْأَئِمَّةِ الَّذِي يَحْصُلُ بِهِ سَفْكُ الدِّمَاءِ وَإِتْلَافُ الْأَمْوَالِ مَا لَا يَعْلَمُهُ بِهِ إِلَّا اللهُ

“Bai’at yang terdapat pada sebagian jamaah-jamaah merupakan bai’at yang ganjil dan mungkar. Di dalamnya terkandung makna bahwa seseorang menjadikan untuk dirinya dua imam dan dua penguasa, (pertama) imam tertinggi yang merupakan imam yang menguasai seluruh negeri, dan (kedua) imam yang dibai’atnya. Juga akan menjurus kepada kerusakan, dengan keluar dari ketaatan kepada para penguasa, yang dapat menyebabkan pertumpahan darah dan musnahnya harta benda, yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah”.[3] ...continue

Catatan Kaki   [ + ]

1. Dengan lafazh ini, diriwayatkan juga dalam Al-Ausath (4/169) no. 3885, Al-Haitsami v (5/198) berkata, “Rijalnya tsiqah”.
2. Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin Al Wuhaibi At Tamimy. Muhadits dan ahli fikih terkenal dan anggota kibar ulama Saudi. wafat pada tahun 15 Syawal 1421 H (10 Januari 2001 M) di Rumah Sakit di Jeddah. Karya-karyanya sangat banyak dan dikenal akan kedalaman dan kejelasan bahasannya.
3. Direkam dalam Silsilah Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh (kaset no. 6, side B)/(6/33).
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>