Imam Akhirat, bukan Imam Dunia ?

Imam Akhirat, bukan Imam Dunia ?

“Kalau Rasulullah n telah meridhoi dirinya untuk urusan agama” (Rasulullah pernah menjadikan Abu Bakar imam shalat –pen), mengapa kita tidak meridhoinya untuk urusan dunia kita?”Imam Ash-Shabuni - Aqidah Salaf Ashabul Hadits no. 133

Jama’ah Bapak Kyai Haji Nur Hasan meyakini bahwa imam mereka hanya mengurusi urusan akhirat saja sebagaimana dalam “Teks Daerahan” yang dikeluarkan sebulan sekali. Adapun urusan keduniaan urusan kemasyarakatan jama’ahnya diperintah untuk tunduk dan patuh pada pemerintah yang sah di Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pembagian menjadi dua –imam yang ngurusi akhirat dan imam yang mengurusi dunia- adalah pembagian yang tidak ada asalnya. Bahkan yang disebut imam itu sejak zaman dahulu mengurusi semuanya, baik itu urusan dunia dan urusan akhirat. Oleh sebab itu munculah bab tentang hudud (penegakan hukum), jihad (perang), menjaga perbatasan, memerangi pemberontak, mengambil jizyah dan lain sebagainya dalam kitab-kitab hadits, yang kesemua itu tidaklah ditegakan kecuali oleh seorang amir/imam.

Perhatikan qoul ulama berikut ini, yang menjelaskan bahwa imam itu mengurusi urusan ad-din (agama) dan dunia.

Imam Al-Mawardi v (w. 450 H/ 1058 M) berkata:

الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ

“Keimaman diadakan dalam rangka menggantikan tugas Kenabian berupa menjaga din dan mengatur urusan duniawi. Dan memberikan jabatan ini kepada orang yang bisa melaksanakan di kalangan Umat Islam ini hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma (kesepakatan ulama)” (Al-Ahkam Ash-Shulthoniyah I/ 5).

Abu Ma’ali Al-Juwaini v (w. 478 H/ 1085 M) berkata,

الْإِمَامَةُ رِيَاسَةٌ تَامَّةٌ، وَزَعَامَةٌ عَامَّةٌ، تَتَعَلَّقُ بِالْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ، فِي مُهِمَّاتِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا

“Imammah adalah pengaturan yang sempurna, kekuasaan yang menyeluruh, berkaitan dengan manusia secara khusus dan umum, dalam masalah agama dan dunia”. (Ghayyatsil Umam fi Tayyatsil Dzulam hal. 22 – Maktabah Imam Haramain).

Imam Al-Qal‘i v (w. 630 H/ 1233 M) berkata:

نظام أَمر الدّين وَالدُّنْيَا مَقْصُود وَلَا يحصل ذَلِك إِلَّا بِإِمَام مَوْجُود

“Pengaturan urusan din dan dunia merupakan sebuah tujuan, dan tidak akan tercapai selain dengan adanya Imam. (Tahdzibur Riyasah Wa Tartibus Siyasah hal. 94).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v (w. 728 H/ 1328 M) berkata:

يَجِبُ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ وِلَايَةَ أَمْرِ النَّاسِ مِنْ أَعْظَمِ وَاجِبَاتِ الدِّينِ ؛ بَلْ لَا قِيَامَ لِلدِّينِ وَلَا لِلدُّنْيَا إلَّا بِهَا .

“Wajib diketahui bahwa memimpin urusan umat manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar. Bahkan urusan agama dan dunia tidak akan tegak kecuali dengannya. (Majmu‘ Fatawa 28/ 390-392).

Imam Ash-Shabuni v (w. 449 H/ 1057 M) menghikayatkan hal ini dari para sahabat,

ويُثبت أصحابُ الحديث خلافةَ أبي بكر رضي الله عنه بعد وفاة رسول الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – باختيار الصحابة واتِّفاقهم عليه وقولهم قاطبة: رَضِيَه رسولُ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لدِيننا فرضيناه لدُنيانا

“Ashabul Hadits menetapkan bahwa kekhalifahan Abu Bakar setelah wafatnya Rasullullah n adalah berdasarkan pemilihan dan kesepakatan seluruh para sahabat kepadanya. Mereka (para sahabat) menyatakan, Kalau Rasulullah n telah meridhoi dirinya untuk urusan agama” (Rasulullah pernah menjadikan Abu Bakar imam shalat –pen), mengapa kita tidak meridhoinya untuk urusan dunia kita?”. (Aqidah Salaf Ashabul Hadits no. 133).

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>