Banyak Sekali Jalan Mendapatkan Ilmu

Banyak Sekali Jalan Mendapatkan Ilmu

“Kami dulu mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat pada-nya ilmu, maka kamipun silih berganti mendatanginya, bagaikan kami mendatangi seorang ahli fiqih”Abdul Malik bin Habib atau Abu Imran al-Jauni - Tabi'in

Para ulama telah mencontohkan banyak sekali jalan-jalan mendapatkan ilmu, sama sekali tidak terkungkung oleh satu metode tertentu dan cara tertentu apalagi kelompok tertentu. Rasulullah n bersabda,

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“Sesungguhnya ilmu itu (diperoleh) dengan cara belajar”. (Silsilah Ash-Shahihah no. 342).

Belajar yang dimaksud beragam caranya, tidak harus dengan manqul.

Disini saya akan sebutkan beberapa diantaranya, bukan batasan melainkan tambahan dari apa yang jarang disebutkan oleh pemilik kaidah manqul:

  1. Diskusi, sebagaimana Anas ibn Malik berkata, “Suatu ketika kami duduk bersama Nabi n jumlah kami kurang lebih 60 orang. Nabi n menyampaikan haditsnya kepada kami. Setelah itu beliau pergi untuk suatu keperluan. Kami mendiskusikan kembali masalah yang beliau sampaikan tadi, sampai hal itu mantap seperti tertanam didalam hati kami”. [al-Imla 142, Al-Azhami hal 445].
  2. Meminjam Kitab, sebagaimana Humaid ibn At-Tawil yang meminjam kitab Hasan Al-Bashri setelah disalin lalu kitab itu dikembalikannya. [Al-Ilal 1/15, Al-Kifayah 236, Al-Azhami hal. 494].
  3. Membeli Kitab, sebagaimana kata ad-Dauruqi bahwa ada dua orang yang singgah di keluarga Abu Ubaidah Al-Asyja’i, membeli kitab-kitabnya dan berbincang-bincang. [Tarikh Baghdad 6/194, Al-Azhami hal. 497].
  4. Saling berkirim surat/buku, sebagaimana Rasulullah n menulis surat kepada Kisra, Qaishar, Najasyi dan kepada yang lainnya dalam riwayat Bukhari dan Muslim. Demikian pula Aisyah radhiyallahu ’anha menulis tulisan kepada Hisyam bin Urwah berisi tentang shalat [al-Kifayah 343].
  5. Membaca Kitab di Perpustakaan, Abdul Malik bin Habib atau Abu Imran al-Jauni beliau adalah seorang Tabi’in yang Tsiqoh, mengatakan: “Kami dulu mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat pada-nya ilmu, maka kamipun silih berganti mendatanginya, bagaikan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az-Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih.” [telah berlalu takhrijnya pada bagian 6].

Dan cara lain-lainnya.[]

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>