Terlarangnya Ro’yu

Terlarangnya Ro’yu

Adapun tuduhan ro’yi kepada orang-orang yang dianggap tidak manqul, adalah tuduhan mengada-ngada. Menurut mereka, ”sang penerima hadits” (murid) tidak boleh apa yang mereka sebut ”memfaham-fahami sendiri”, dan ”mengangan-angankan sendiri” apa maksud terkandung dalam hadits dari Rasulullah n tapi harus mutlak mengikuti apa pemahaman penyampai dari hadits tersebut (guru). Bagi orang yang membangkang terhadap kaidah ini akan terancam tuduhan ro’yu bahkan diancam neraka !!!. [1] ...continue

Padahal Allah Ta’ala telah memudahkan Al Qur’an sehingga dapat dipahami dengan gampang, oleh karena itu dalam setiap ayat atau hadits, yang memerintahkan manusia untuk membaca, merenungi dan mentadabburi ayat-ayat Allah tidak disebutkan persyaratan harus dibimbing oleh seorang guru, apalagi dari kelompok tertentu saja.

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu (bahasa Arab) supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ad Dukhan: 57),

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya Kami telah mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qomar: 17)

Al-Hafizh Ibnu Katsir v menjelaskan ayat ini dengan berkata:

سَهَّلْنَا لَفْظَهُ، وَيَسَّرْنَا مَعْنَاهُ لِمَنْ أَرَادَهُ، لِيَتَذَكَّرَ النَّاسُ

“Kami mudahkan pengucapannya, Kami gampangkan ma’nanya bagi siapa saja yang menghendakinya, menjadi pelajaran bagi manusia” (Tafsir Ibnu Katsir 7/478 –cet Darul Thoyibah).

Imam Abu Dawud v mengatakan,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ مِنْ وَلَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Umar bin Sulaiman dari putera Umar bin Al Khathab, dari Abdurrahman bin Aban dari Ayahnya dari Zaid bin Tsabit ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah n bersabda: “Semoga Allah Ta’ala memberi cahaya kepada seseorang yang mendengar sebuah hadits dari kami, lalu ia menghafalkan dan menyampaikannya kepada orang lain. Mungkin saja orang yang membawa ilmu itu bukan orang yang memahaminya. Mungkin juga orang yang membawa ilmu itu menyampaikannya kepada yang lebih paham darinya” (Sunan Abu Dawud (3/322) no. 3660).

Hadits ini merupakan pujian bagi ahli hadits –semoga Allah memberi cahaya kepada mereka- dan sekaligus juga bantahan bagi ilmu manqul. Dalam hadits ini, justru pemahaman murid yang tidak didapatkan dari gurunya tersebut oleh Rasulullah n dibenarkan dan tidak disalahkan, karena hadits di atas bermaknakan pujian terhadap seluruh macam orang yang disebutkan didalamnya.

Imam Bukhori v meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا مُطَرِّفٌ، أَنَّ عَامِرًا، حَدَّثَهُمْ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قُلْتُ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ مِنَ الوَحْيِ إِلَّا مَا فِي كِتَابِ اللَّهِ؟ قَالَ: «لاَ وَالَّذِي فَلَقَ الحَبَّةَ، وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، مَا أَعْلَمُهُ إِلَّا فَهْمًا يُعْطِيهِ اللَّهُ رَجُلًا فِي القُرْآنِ

“Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Yunus telah bercerita kepada kami Zuhair telah bercerita kepada kami Muthorrif bahwa ‘Amir bercerita kepada mereka dari Abu Juhaifah a berkata, aku bertanya kepada ‘Ali a; “Apakah kalian menyimpan wahyu lain selain yang ada pada Kitab Allah?”. Dia menjawab; “Tidak. Demi Dzat Yang Menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan Yang Men-ciptakan jiwa, aku tidak mengetahuinya kecuali pemahaman yang Allah berikan kepada seseorang tentang Al Qur’an” (Shahih Bukhari no. 3047).

Bukannya menafikan pentingnya guru..

Pada kisah ini sahabat dan sekaligus Khalifah Ali bin Abi Thalib a menyatakan bahwa ia tidak memiliki wahyu yang dikhususkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk beliau atau yang hanya diketahui oleh beliau saja. Beliau hanya memiliki pemahaman terhadap Al Qur’an yang mungkin tidak dimiliki oleh orang muslim lainnya. Pernyataan beliau ini membuktikan bahwa pemahaman terhadap Al Qur’an tidak mesti ditimba dari guru, bahkan beliau menyatakan bahwa bisa saja Allah membukakan hati atau melimpahkan pemahaman kepada seseorang tanpa harus mendapatkan pemahaman tersebut dari seorang guru.

Perkataan kami ini bukan berarti menyepelekan arti guru atau melarang seseorang menimba ilmu dari seorang guru, bahkan setiap orang harus memiliki guru. Yang terlarang itu bersikap berlebihan sebagaimana Jama’ah354.

Adapun Hadits yang sering digunakan Jama’ah354 untuk melarang anggotanya mendalami sendiri fiqh yang terkandung dalam suatu ayat atau hadits, kata mereka, “Harus melalui manqul, kalau tidak, maka namanya difaham-fahami sendiri dan diangan-angankan sendiri”.

Yaitu Hadits:

مَنْ قَالَ فِى كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Barangsiapa berbicara tentang kitabullah Azza wa Jalla dengan ro’yinya (dalam tafsir Nur Hasan: yakni secara tidak manqul), walaupun benar maka sungguh-sungguh (hukumnya) tetap salah”. (Abu Dawud no. 3652 dan Tirmidzi no. 2952).

Atau hadits serupa,

مَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berbicara tentang Al-Quran tanpa ilmu (dalam tafsir Nur Hasan: yakni secara tidak manqul) maka hendaknya menempati tempat duduknya di neraka”. (Tirmidzi no. 2950).

Dari segi sanad, kedua atsar tadi sebenarnya lemah sebagaimana disebutkan Imam Al-Albani v dalam Al-Misykat (no. 235) dan Silsilah Adh Dha’ifah (4/265) no. 1783, silahkan lihat penjelasannya disana. Jadi tidak bisa dijadikan hujjah.

Andaikata shahih pun, sama sekali hadits-hadits ini tidak mendukung terhadap pemahaman mereka. Penjelasan ulama tentang “bi ro’yi” atau ‘bi ghairi ilmi’ bukan dalam arti tanpa manqul seperti yang dipahami mereka, melainkan “tanpa ilmu, tanpa dalil, tanpa kaidah-kaidah tafsir”, sebagaimana dalam Aunul Ma’bud (10/61) :

قَالَ السُّيُوطِيُّ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ إِنْ صَحَّ أَرَادَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ الرَّأْيَ الَّذِي يَغْلِبُ عَلَى الْقَلْبِ مِنْ غَيْرِ دَلِيلٍ قَامَ عَلَيْهِ وَأَمَّا الَّذِي يَشُدُّهُ بُرْهَانٌ فَالْقَوْلُ بِهِ جَائِزٌ

“Berkata As-Sayuthi: berkata Al-Baihaqi: “Jika (hadits) ini shahih, maka yang dikehendaki wallahu’alam adalah ketika ro’yi yang lebih dominan diqalbunya, tanpa disertai oleh dalil yang mendukungnya. Dan adapun (ro’yi) yang didukung oleh dalil maka boleh”.

Penulis Aunul Ma’bud menambahkan bahwa yang dimaksud bisa jadi:

مَنْ قَالَ فِيهِ بِرَأْيِهِ مِنْ غَيْرِ مَعْرِفَةٍ بِأُصُولِ الْعِلْمِ وَفُرُوعِهِ

“Orang yang mengatakan dengan pendapat akalnya saja tanpa mengetahui prinsip-prinsip ilmu dan cabang-cabangnya”.

Pengertian ini semakna dengan apa yang diterangkan oleh Al-Muhadits Ubaidullah Al-Mubarakfuri v [2] ...continue dalam Mir’atul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih (1/330 –cet Jamiyah Salafiyah Beneres). Menurut beliau, yang dimaksud hadits diatas adalah orang yang menggunakan akalnya saja tanpa pendukung dari hadits yang marfu ataupun mauquf, tanpa meneliti ucapan para Imam dari ulama ahli bahasa Arab, yang tidak sesuai dengan kaidah syar’iyyah, bahkan dia sesuaikan dengan akalnya saja. Adapun ro’yi yang didukung oleh dalil maka yang demikian itu tidak mengapa.

Ro'yu yang dilarang

Kemudian beliau mengutip perkataan An-Naisaburi v:

لا يجوز أن يراد أن لا يتكلم أحد في القرآن إلا بما سمعه، فإن الصحابة قد فسروه واختلفوا فيه على وجوه، وليس كل ما قالوه سمعوه منه
Adapun banyaknya perkataan larangan ro’yi dari para ulama, maksudnya adalah ro’yi tercela. Sebab ro’yi itu menurut pemahaman ulama ada dua macam, yang tercela dan terpuji.”Tidak boleh hadits ini dimaksudkan bahwa: ”Jangan sampai seorangpun mengatakan pada Al Quran kecuali apa yang ia dengar”. Karena para Sahabat telah menafsirkan Al-Quran dan mereka berselisih pendapat pada beberapa masalah dan tidaklah semua yang mereka katakan itu mereka dengar dari Rasulullah n”.

Imam Ibnu Abdil Bar v dalam dalam Jami Bayan al-Ilm wa Fadhlihi mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat dalam hal ra’yu yang tercela tersebut, sebagian kelompok mengatakan,

الرَّأْيُ الْمَذْمُومُ هُوَ الْبِدَعُ الْمُخَالِفَةُ لِلسُّنَنِ فِي الِاعْتِقَادِ

“Ro’yu yang tercela adalah bid’ah yang menyelisihi sunnah dalam hal aqidah”. (2/1052 – cet Darul Ibnu Jauzi)

Sedangkan jumhur ulama mengatakan,

الْقَوْلُ فِي أَحْكَامِ شَرَائِعِ الدِّينِ بِالِاسْتِحْسَانِ وَالظُّنُونِ

“(ro’yu tercela) adalah berbicara dalam hukum syari’at agama dengan sekedar anggapan baik dan prasangka (tanpa dalil)”. (2/1054 – cet Darul Ibnu Jauzi).

Kesimpulannya, apa yang dijadikan hujjah oleh KH Nurhasan dan Jama’ah354 justru bukan dalil yang mendukung mereka. Dan bagi orang yang waras pasti akan sadar bahwa ini hanyalah rekayasa supaya pengikutnya tidak keluar dari ajaran kelompoknya supaya mata mereka buta –tidak menggunakan otaknya dan tidak berpikir- jika kemudian mereka mendapati apa yang terkandung dalam dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah bertentangan dengan jalan kelompok mereka.

Imam Ad-Darimi v meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ، قَالَ كَانَ سَلَّامٌ، يَذْكُرُ عَنْ أَيُّوبَ، قَالَ: «إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ خَطَأَ مُعَلِّمِكَ، فَجَالِسْ غَيْرَهُ»

Telah mengabarkan kepada kami Sa’id bin ‘Amir ia berkata: “Dahulu Salam pernah menyebutkan riwayat dari Ayyub, ia berkata: ‘Apabila kamu ingin mengetahui kesalahan gurumu, duduklah engkau untuk belajar kepada orang lain”. [3] ...continue

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi حفظه الله [4] ...continue mengatakan dalam Risalah beliau Ad-Da’wah Ilallah Baina At-Tajammu’ Al-Hizbi Wa Ta’awun As-Syar’i,

لذا ؛ فإن الحزبيين يمنعون أتباعهم من مجالسة غيرهم ممن ليس معهم ، أو ليس مؤازرا لهم .فإذا ترقت أحوالهم ؛ فهم يسمحون بشروط كثيرة وقيود وفيرة ، يريدون بها حجب عقولهم عن سماع ما يناقض طريقتهم ، ويرد منهجهم

“Justru karena inilah, maka kaum hizbiyun (orang-orang yang fanatik terhadap golongan) melarang pengikut-pengikutnya untuk menimba ilmu dari orang-orang selain golongan atau simpatisannya. Kalaupun sikap mereka menjadi lebih lunak, namun mereka akan memberikan kelonggaran dengan banyak syarat serta ikatan-ikatan yang njelimet, (yang dikehendaki dengannya) supaya akal-akal pikiran para pengikutnya tetap tertutup dari mendengar hal-hal yang bertentangan dengan jalan mereka atau mendengar bantahan terhadap bid’ah mereka”. []

Catatan Kaki   [ + ]

1. Dalam buku Bahaya Islam Jama’ah (hal 22) disebutkan pula kesaksian bahwa anggota jama’ah dilarang menerima segala penafsiran yang tidak bersumber dari imam. Bahkan menuduh Al-Qur’an yang terjemah Departemen Agama dan dijual di khalayak umum itu tidak benar, dianggap sebagai ro’yu (hal. 177). Semua itu benar sebagaimana disaksikan oleh penulis sendiri.
2. Beliau adalah Abu Hasan Ubaidullah bin Al-Allamah Abdusalam ar-Rahmani Al-Mubarakfuri, ahli hadits besar dari India, dan salah satu murid terbaik Syaikh Abdurrahman Al-Mubarakfuri sang penulis Tuhfatul Afwadzi, meninggal tahun 1414 H/ 1994 M.
3. Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya no. 669
4. Beliau adalah Abu Harits Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi, lahir tahun 1380 H/1960 M di kota Zarqa, Yordania. Orang yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahab Marzuq Al-Bana, “Syaikh Al-Albani adalah Ibn Taimiyah zaman ini, dan muridnya Syaikh Ali Hasan, Ibn Qayyim zaman ini”. Beliau bertemu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani pada akhir 1977 M di Yordania, belajar kepadanya kitab “Ishkaalaat Al-Baa’ith al-Hathith” dan kitab-kitab lainnya mengenai hadits dan ilmu hadits. Beliau memiliki ijazah hadits dari beberapa ulama seperti Syaikh Badi`uddin As-Sindi, Syaikh Muhammad Asy-Syanqithi dan lainnya.

Lihat biografi beliau dalam kitab: Tuhfatul Thalib As-Salafi bi Tarjamah Asy-Syaikh Al-Muhadits Ali Hasan Al-Halabi karya Ali bin Muhammad Abu Haniyah.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>