Seberapa Penting Sanad Dalam Mencari Ilmu?

Seberapa Penting Sanad Dalam Mencari Ilmu?

Dizaman sekarang ini, sanad bukan lagi ukuran dalam mencari ilmu. Karena telah panjangnya sanad dan banyak sekali didalamnya perawi yang majhul dari segi keadilan[1] ...continue dan kedhabitannya[2] ...continue. Anda bisa mencobanya langsung kepada para mubaligh jama’ah354, adakah mereka mengetahui biografi orang-orang yang ada dalam ijazah/sanad mereka, maksud saya dari segi keadilan, kedhabitan dan kemuntasilannya. Misalnya dalam sanad Haji Ubaidah yang disebutkan dalam Kitabusholah. Faktanya, jangankan dari segi keadilan dan kedhabitannya, tahun kelahiran dan kematian-nya saja sebagian besar mereka tidak mengetahuinya.

Para ulama di Haramain sendiri yang konon Para pengikut Haji Nur Hasan merujuk kepada mereka, seperti Komisi Fatwa di Arab Saudi, Al-Lajnah Al-Da’imah Lil Buhuth Al-’Ilmiyyah Wal Ifta’ tatkala ditanya oleh seseorang yang menjadikan ijazah/sanad sebagai tolak ukur mencari hadits dan ilmu,

هل بقي أحد من العلماء الذين يصلون بإسنادهم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلى كتب أئمة الإسلام؟ دلونا على أسمائهم وعناوينهم حتى نستطيع في طلب الحديث والعلم إليهم?

“Apakah masih ada dari para ulama yang bersambung isnad mereka sampai dengan Rasulullah n dan kepada kitab-kitab para imam Islam? Sebutkanlah kepada kami nama-nama mereka dan alamat-alamat mereka sehingga kami dapat mencari hadits dan ilmu dari mereka?!”.

Lajnah malah menjawab dalam fatwanya (4/371) no. 3816,

يوجد عند بعض العلماء أسانيد تصلهم بدواوين السنة، لكن ليست لها قيمة؛ لطول السند، وجهالة الكثير من الرواة عدالة وضبطا. وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

Masih terdapat disisi sebagian ulama sanad-sanad yang menyambungkan mereka dengan kitab-kitab sunnah, akan tetapi yang demikian sudah tidak ada nilainya lagi, karena panjangnya sanad dan banyak didalamnya perawi majhul dari segi keadilan dan kedhabitannya. Wabillahitawfiq, sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, dan kepada Keluarga dan Shahabatnya”.

Fatwa itu ditandatangani oleh para ulama ahli hadits Arab Saudi dalam komisi fatwa, diantaranya,

  1. Syaikh Abdullah bin Qu’ud v [3] ...continue(anggota)
  2. Syaikh Abdullah bin Ghudayyan v [4] ...continue (anggota)
  3. Syaikh Abdurrazaq Afifi v [5] ...continue (anggota)
  4. Syaikh Ibnu Baz v  [6] ...continue(ketua)

“….yang demikian sudah tidak ada nilainya lagi, karena panjangnya sanad dan banyak didalamnya perawi majhul dari segi keadilan dan kedhabitannya.”

Fatwa ini sama sekali bukan menafikan kebiasaan para ulama hadits yang masih mempertahankan tradisi salaf terdahulu dalam memberi dan menerima periwayatan (sanad/ijazah). Sebab para ulama diatas juga memilikinya. Hanya saja, dizaman sekarang ini hal tersebut bukan lagi ukuran sebagaimana dizaman salaf dahulu karena telah panjangnya sanad sedangkan kitab-kitab hadits (seperti Bukhori, Muslim, Abu Dawud, dll) telah dibukukan dan mutawatir ditangan umat Islam. []

Catatan Kaki   [ + ]

1. Keadilan para perowinya yaitu Muslim, berakal, baligh, taqwa, tidak suka berdusta, bukan orang fasiq, dan lain-lain.
2. Hafalannya kuat, tidak sering salah, dan lain-lain.
3. Beliau adalah Abdullah bin Hasan bin Muhammad bin Hasan bin Abdullah Qu’ud. Anggota komisi fatwa dan Hai’ah Kibar Ulama Saudi. Imam dan Khotib di salah satu mesjid besar di Riyadh. Meninggal pada 9 Ramadhan 1426 H (13 Oktober 2005 M) di kota Riyadh.Biografi beliau disebutkan oleh Syaikh Athoulloh dalam Kitab Syaikh Abdullah bin Qu’ud Hayatuhu wa Da’watuhu
4. Beliau adalah Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyan. Ulama Anggota Majelis Fatwa Arab Saudi dan Haiah Kibar Ulama. Beliau wafat pada Selasa, 18 Jumadil Akhir 1431 H (1 Juni 2010 M).
5. Beliau adalah Abdurrazaq bin Afifi bin Athiyah bin Abdul Barr bin Syarifuddin. Syaikhnya para Masya’ikh dan anggota ulama besar Arab Saudi, salah satu rekan dan murid dari Syaikh Abdul Dhohir Abu Samah dari Mesir, Beliau wafat pada Kamis pagi, 25 Rabiul Awwal 1415 H (1 September 1994 M).Lihat biografi beliau dalam risalah Ithaf an-Nubala bi Siroh Al-Allamah Abdurrazaq Afifi, atau dalam Siroh Hayat Syaikh Abdurrazaq Afifi karya Syaikh Muhammad bin Ahmad pengajar di Darul Hadits Mekkah.
6. Beliau adalah Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Abdurrahman ibn Muhammad ibn Abdullah Al-Baaz. Mufti besar Arab Saudi setelah Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh. Beliau wafat di kota Thaif, beberapa saat sebelum shubuh, Kamis 27 Muharram 1420 H (18 April 1999 M).Kitab yang menyebutkan biografi beliau sangat banyak, diantara yang paling bagus adalah tulisannya Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan.
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>