Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Andaikata kita menolak kebenaran yang berasal dari mereka yang dianggap belum atau tidak manqul, atau merendahkan dan melecehkan mereka, niscaya sikap kita itu termasuk dalam kesombongan sebagaimana disebutkan hadits.

Imam Muslim v meriwayatkan,

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar serta Ibrahim bin Dinar semuanya dari Yahya bin Hammad, Ibnu al-Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Aban bin Taghlib dari Fudlail al-Fuqaimi dari Ibrahim an-Nakha’i dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud a dari Nabi n, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesom-bongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Shahih Muslim no. 91 –Cet Darul Mughni).

Perhatikanlah dalam hadits diatas, bukankah Nabi n menyebutkan secara umum “menolak kebenaran” beliau tidak mengecualikan dengan perkataan semisal, “Kecuali kalau kebenaran itu datangnya dari orang yang belum manqul” atau “kecuali kebenaran itu datangnya dari si fulan atau si fulan?!!”. Justru menolak kebenaran termasuk kesombongan yang mencegah seseorang masuk surga.

Kadang kala, Jama’ah 354 menuntut kepada orang yang menyampaikan kebenaran keabsahan manqulnya. Padahal amar ma’ruf nahi mungkar itu tidak lah disyaratkan harus manqul dahulu atau memiliki sanad/ijazah dahulu.

Dalam hadits yang terkenal disebutkan,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (Shahih Muslim no. 49 –cet Darul Mughni)

Coba renungi, Rasulullah n tidak pernah mengatakan, “Hendaklah kamu memiliki ijazah sanad dahulu atau hendak-lah kamu manqul dahulu, baru mencegah kemungkaran !!!”. Rasulullah n hanya berbicara secara umum, siapa yang mengetahui kemungkaran hendaklah ia mencegahnya.

Ahli Hadits Abad ini Syaikh Al-Albani v  juga meng-gunakan hadits ini ketika seorang pembantah memintanya menunjukan ijazah terlebih dahulu sebelum mengkritiknya. Beliau v menceritakan dalam kitabnya, Silsilah Adh-Dhaifah (1/103-104) tatkala beliau berdialog dengan seorang Syaikh lulusan Al-Azhar,

…فأخبرته بأنه ضعيف ، فازداد حدة وافتخر علي بشهاداته الأزهرية ، وطالبني بالشهادة التي تؤهلني لأن أنكر عليه ! فقلت : قوله صلى الله عليه وسلم : ” من رأى منكم منكرا … ” الحديث!

“… saya beritahu kepadanya bahwa hadits (yang ia sebutkan) itu dha’if, tetapi ternyata dia justru bertambah keras!!, dan membanggakan kepadaku Ijazah Al-Azharnya, dan dia menuntut ijazahku sehingga aku pantas mengkritiknya!, maka aku jawab, sabda Rasulullah n, “Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran … ! (al-hadits)”.

Syaikh Al-Albani ini sebenarnya memiliki ijazah periwayatan dari Syaikh Muhammad Raghib Tabakh v,[1] ...continuehanya saja beliau ingin mengingatkan kepada orang tersebut bahwa kebenaran itu harus diterima darimanapun datangnya, hatta dari orang yang tidak memiliki ijazah sekalipun.

Syaikh Al-Muhadits Al-Albani v menyebutkan ijazah beliau dalam Shahih Abu Dawud (5/253-254), setelah menyebutkan hadits Musalsal Al-Mahabah yang terkenal itu,

وقد أجازني بروايته الشيخ الفاضل راغب الطباخ رحمه الله

”Dan sungguh telah memberikan ijazah kepadaku untuk hadits musalsal ini Syaikh Al-Fadhil Raghib At-Tabakh rahima-hullahu…”.

Syaikh Al-Albani v meriwayatkan dari Syaikh Muhammad Raghib v kitab tsabat (kitab isnad dan ijazah) yang berjudul ”Al-Anwar Al-Jaliyah Fi Mukhtasar Al-Atsabat Al-Halabiyah”.[2] ...continue []

Catatan Kaki   [ + ]

1. Beliau adalah Muhammad Raghib ibn Mahmud ibn Syaikh Hasyim At-Thabakh, Ahli Hadits Syam pada zamannya, Syaikh meninggal pada bulan ramadhan tahun 1370 H/1951 M di Halab.

Lihat biografi beliau dalam kitab : Al-‘Alam karya Az-Zarkili (6/123-124), Natsrul Zawahir karya Dr. Yusuf bin Abdurahman hal. 1165- 1167 dan lainnya.

2. Lihat kisahnya dalam kitab Ulama wa Mufakkiruun ‘araftuhum karya Muhammad Al-Majdzuub (I/288).
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>