Guru Abah pun Menulis ‘Kitab Karangan’?

Guru Abah pun Menulis ‘Kitab Karangan’?

Para jama’ah 354 telah menisbatkan pemahaman manqul ini kepada para ulama Haramain (Mekkah dan Madinah) terutama guru-gurunya di Masjidil Harom dan Darul Hadits Mekkah. Akan tetapi faktanya guru-guru KH Nurhasan tidak memiliki pemahaman seperti yang kita nisbatkan.

Ambil contoh saja para mudaris (guru) di Darul Hadits.[1] ...continue [9] ...continue

Syaikh Abdurrazaq Hamzah v [2] ...continue adalah pendiri dan pengajar Darul Hadits bersama Syaikh Abdul Dhohir Abu Samah v  [3] ...continue sekaligus juga menjadi menantunya. Syaikh Abdurrazaq v ini justru memiliki metode mengajar yang menyalahi kaidah manqul Jama’aj 354. Yaitu menyuruh muridnya membaca sendiri kitab-kitab !!!.

Hal tersebut diterangkan oleh Imam Masjidil Harom, Syaikh Umar bin Muhammad As-Subail v (w. 1423 H) tatkala menjelaskan biografi lulusan terbaik Darul Hadits Mekkah yaitu Syaikh Muhammad As-Sumali (w. 1420 H/ 1999 M) yang hidup sezaman dengan KH Nurhasan..

Syaikh Umar bin Muhammad As-Subail v berkata,

وكانت طريقة الشيخ عبد الرزاق في تدريسه للحديث: أنه كان يقرأ السند، ثم يسأل طلابه عن اسم الراوي وكنيته ولقبه، فإذا لم يعرف؛ بحثوا عنه في الكتب

“Syaikh Abdurrazaq ini memiliki metode mengajar ilmu hadits dengan cara menjelaskan rangkaian sanad kemudian memberi pertanyaan kepada murid-muridnya tentang nama, kunyah dan laqab dari para perawi hadits. Bila ada yang tidak bisa menjawab. Ia diharuskan mencari sendiri jawabannya dalam kitab-kitab hadits”.[4] ...continue

Contoh yang lainnya,

Salah satu murid Syaikh Umar Hamdan[5] ...continue dan Syaikh Muhammad Ibrahim Asy-Syaikh (Mufti Saudi di zaman itu) adalah ulama Mekkah, namanya Syaikh Abdurrahim Shadiq Al-Makki v, beliau ini ternyata membaca-baca kitab Syaikh Al-Albani dan mengambil manfaat darinya, tentu saja tanpa manqul kepada Al-Albani karena Syaikh Al-Albani ini bahkan dikenal lebih banyak mendapatkan ilmu di perpustakaan-perpustakaan dengan membaca buku.

Syaikh Abdurrahim Shadiq Al-Makki v berkata tentang Kitab karangan-karangan Syaikh Al-Albani yang beliau baca:

لقد سبق لي أن درست شيئأ من كتب السنة وعلومها على مشايخي: عمر حمدان ومحمد إبراهيم الشيخ (مفتي المملكة السعودية رحمه الله) ولكنني وايم الله قد تخرجت أخيرأ من مدرستكم، لمثابرتي على ما تؤلفون وتحققون

“Dahulu saya mempelajari kitab-kitab sunnah dan ilmu hadits pada para guruku: Umar Hamdan dan Muhammad Ibrahim asy-Syaikh (mufti Saudi Arabia v), tetapi Demi Allah, akhir-akhir ini saya telah banyak belajar dari madrasah kalian, dengan selalu aktif mengikuti (membaca) karangan-karangan dan tahqiq-tahqiq anda”.[6] ...continue

Perhatikan ….!!! ternyata murid Syaikh Umar Hamdan dan Syaikh Muhammad Asy-Syaikh tidak fanatik dalam “manqul” dan membaca ‘kitab-kitab karangan” andai pemahaman mereka sama dengan Bapak Nur Hasan Al-Ubaidah.

“Ad-Da’watu Ilallah”
Gambar ini adalah sampul kitab karya Syaikh Abdul Dhohir Abu Samah v judulnya: “Ad-Da’watu Ilallah” yang andai diketahui oleh awam Jama’ah 354, mereka akan menghukuminya sebagai “Kitab Karangan” yang tidak bernilai dan haram untuk dibaca.

Banyak diantara guru-guru di Darul Hadits dan di Masjidil Harom yang menulis dan membuat kitab-kitab yang termasuk kategori ‘kitab karangan” dalam versi Haji Nur Hasan dan jama’ah 354. Bahkan kalau memang mereka menerapkan metode manqul sebagaimana dipahami Haji Nur Hasan , tidak mungkin mereka menyebarkan tulisan-tulisannya dengan dicetak dan diperbanyak oleh para penerbit, sebagiannya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa sehingga sampai kepada kaum muslimin diberbagai Negara.Contoh lain lagi,

Syaikh Abdul Dhohir Abu Samah v, diantara tulisannya adalah Hayatul Qu-lub Bi Du’a ‘Alamul Ghuyub, Al-Aulia wal Karamat, ar-Risalah Al-Makiyyah, Ad-Da’watu Ilallah dan lainnya.

Syaikh Abdurrazzak Hamzah v, , Beliau adalah singa yang buas bagi pengikut bid’ah dan hawa nafsu, beliau memiliki beberapa buku yang membantah kesesatan seperti Dhulumat Abu Rayah dan Al-Muqobalah Baina Al-Hadi wa Dholal. Bukunya ini dicetak dan disebarkan ke berbagai negara sebagai bantahan bagi pelaku bid’ah. Tentu menurut kaidah manqul, ini tidak boleh terjadi karena para pembacanya harus manqul dulu.

Syaikh Abdullah Khoyyat v, termasuk murid senior Syaikh Abdul Dhohir, beliau juga mengajar dan imam di Masjidil Harom.[7] ...continue Diantara tulisannya adalah sebuah Tafsir (3 Jilid), Kitab Khutbah fi Masjidil Harom (6 Jilid), Kitab Dalil Al-Muslim fi Al-‘Itiqad, Kitab I’tiqad as-Salaf, dan lainnya berjumlah sekitar 26 kitab, ini yang sempat tercatat.

Syaikh Muhammad Jamil Zainu v, murdaris di Darul Hadits Mekkah[8] ...continue, kitab-kitab Syaikh telah kita kenal bahkan sangat banyak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, seperti Minhajul Firqatin Najiyah wat Thaifah Al-Manshurah, Ash Shufiyyah fi Mizan Al Kitab wa As Sunnah, Kaifa Ihtadaitu Ila At Tauhid wa Ash Shirath Al Mustaqim yang berisi kisah beliau menemukan kebenaran tauhid dan manhaj salaf, dan lainnya karya beliau banyak sekali.

Semua itu adalah contoh-contoh yang mudah penulis dapatkan saja, seandainya menelusurinya lebih jauh, penulis yakin akan banyak menemukan fakta lainnya yang menunjukan keyakinan bahwa kaidah manqul ini bukan berasal dari para ulama tersebut tapi murni “ijtihad” Bapak KH Nurhasan dan jama’ah 354. []

Catatan Kaki   [ + ]

1. Mahad Darul Hadits sendiri telah menyangkal bahwa KH Nurhasan termasuk salah satu murid di pesantren ini sebagaimana informasinya dari surat resmi Syaikh Muhammad Umar Abdul Hadi direktur Darul Hadits Mekkah dan Direktur Umum Inspeksi Agama di Masjid Al-Haram, As-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid. Kisahnya terdapat dalam buku Bahaya Islam Jama’ah, Lemkari, LDII hal. 83. Kata mereka, “Tidak benar ada orang yang bernama Nurhasan Al-Ubaidah yang belajar disana tahun-tahun 1929-1941”.

Dalam buku, Bukti Kebohongan Imam Jama’ah LDII oleh LPPI, dikutip jawaban dari Direktur Umum Inspeksi Agama di Masjid Al-Haram, As-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid pada tahun 1399 H. Isi jawaban itu: “Perguruan Darul Hadits belum berdiri sebelum 1352 H (1932 M). Maka study H. Nurhasan Al-Ubaidah sebelum lahirnya perguruan tersebut pada perguruan itu adalah diantara hal yang membuktikan bahwa pengakuannya tidak benar. Dan setelah kami periksa arsip perguruan Darul Hadits di sana, tidaklah terdapat nama dia sama sekali, hal itu membuktikan bahwa dia tidak pernah study di sana.

Mengenai pertanyaan saudara tentang “Dapatkah dibenarkan pendiriannya yang mengharuskan diterimanya hadits-hadits Nabi yang hanya diriwayatkan oleh dia saja?” Dapatlah dijawab bahwa menggunakan periwayatan hadits, sehingga tidak dapat diterima kecuali melalui dia adalah suatu pendirian yang batil. Ini adalah penipuan terhadap ummat yang tidak patut dipercaya, sebab riwayat hadits-hadits Rasulullah n sudah tercantum dalam kitab-kitab hadits induk yang shahih dan kitab-kitab hadits induk lainnya.

2. Beliau adalah Muhammad ibn Abdurrazak ibn Hamzah ibn Taqiyuddin ibn Muhammad, dari keturunan Rasulullah n. Ahli hadits yang berasal dari Mesir. Beliau meninggal hari kamis tanggal 22/2/1392 H (1972 M) setelah sakit cukup lama, dan dishalatkan di Masjidil Harom ba’da shalat maghrib.

Lihat biografi beliau dalam : Majalah At-Tauhid 01/03/2005, tahun 25 no.6.

3. Beliau adalah Abdul Dhohir (atau Muhammad Abdul Dhohir) ibn Muhammad Nuruddin At-Talini Al-Mishri Al-Makki, Abu Samah. Ahli hadits yang berasal dari Mesir. Syaikh meninggal tahun 1370 H/ 1950 M.

Lihat biografi beliau dalam : Natsrul Zawahir karya Dr. Yusuf bin Abdurahman hal. 736.

4. Dari Tarjamah Syaikh Muhammad bin Abdullah As-Sumali karya Syaikh Umar bin Muhammad As-Subail dan Hasan bin Abdurahman Al-Mu’alim dalam Majalah Al-Asholah (27/79-82).
5. Beliau adalah orang yang diklaim sebagai salah satu guru KH Nurhasan Al-ubaidah
6. Fakta itu tercantum dalam surat beliau kepada Syaikh Al-Albani tertanggal 29/4/1390 H (3 Juli 1970 M). Surat ini disebutkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (II/22 – Maktabah al-Ma’arif).
7. Beliau adalah Abu Abdurrahman Abdullah ibn Abdul Ghani ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Abdul Ghani Khayath. Syaikh rahimahullahu meninggal di Mekkah di tahun 1415 H/ 1994 M. Biografinya ditulis oleh Muhammad Ali Al-Jafari berjudul ‘Syaikh Abdullah Abdul Ghani Al-Khayath”.Beliau juga telah banyak mentakhrij, menta’liq dan membuat kata pengantar untuk beberapa kitab sunnah, diantarnya kitab Ibnu Katsir yang di Syarh Syaikh Ahmad Syakir tentang ilmu hadits (lihat gambar samping). Dalam kitab ini diterangkan tentang wijadah dan kebolehan beramal dengannya.

Lihat biografi beliau dalam kitab: Dza’il Al-‘Alam karya Ahmad Al-Alawanah, hal. 132, ‘Itmam al-‘Alam karya Dr. Nizar ‘Abathah/Muhammad Riyadh al-Mahi, hal. 170 dan lainnya.

8. Ahli hadits dan penulis yang membekas dihati, Pengajar di Darul Hadits Mekkah, dan salah seorang murid dari Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Syaikh Jamil wafat tahun 1431 H (2010 M) di Mekkah.

Biografi beliau bisa disimak dalam bukunya Kaifa Ihtadaitu Ila At Tauhid wa Ash Shirath Al Mustaqim.

9. Selanjutnya, dia (KH Nurhasan) tidak akan sanggup mencakup (menghafal) hadits-hadits Rasulullah n walau sekedar sepersepuluhnya. Oleh karena itu, bagaimana mungkin tidak dibolehkan seseorang menerima hadits-hadits Rasulullah n, kecuali hanya melalui dia, sedangkan dia pun sudah terbukti tidak pernah study pada Perguruan Darul Hadits di Makkah Al-Mukarramah. Orang ini sebenarnya hanya pemalsu keterangan, penipu ummat, untuk mengajak orang-orang awam masuk ke dalam alirannya.

Mengenai pertanyaan saudara tentang “Benarkah dia seorang Amirul Mukminin yang dibai’at secara ijma’ dan bahwa mengenai Amirul Mukminin itu telah menunjuk seorang wakilnya yaitu Haji Nur Hasan Al-Ubaidah Lubis, dan adakah legalitasnya yang mewajibkan umat tauhid di Indonesia untuk patuh dan taat kepada dia?”. Jawabannya: “Haji Nur Hasan Al-Ubaidah mengaku wakil Amirul Mukminin dan tidak ada orang yang mengangkatnya sebagai wakil. Tetapi orang ini sebenarnya hanyalah dajjal (penipu) dan pemalsu keterangan, sehingga tidak perlu dihiraukan dan tidak patut dipercaya, bahkan wajib dibongkar kepalsuannya kepada khalayak ramai serta di jelaskan penipuannya dan keterangan-keterangannya yang palsu supaya khalayak ramai mengetahuinya. Dengan demikian, kita termasuk orang yang berdakwah beramar ma’ruf nahi munkar, dalam hal ini memerangi aliran-aliran sempalan yang menyesatkan”. Wallahu’alam.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>