Periwayatan Hadist Melalui Metoda Wijadah

Periwayatan Hadist Melalui Metoda Wijadah

Dalam ilmu hadits terdapat istilah wijadah, dengan dalil sabda Rasulullah n seperti yang telah kami sebutkan di artikel ini. Sebagian ulama hadits telah menerima riwayat wijadah tanpa mempersoalkannya, asalkan ada kepastian keshahihan teks yang diwijadahi.

Dalam Kutubusittah saja terdapat riwayat wijadah, sebagaimana dalam Sunan Abu Dawud (1/289) no. 1108,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ وَجَدْتُ فِي كِتَابِ أَبِي بِخَطِّ يَدِهِ وَلَمْ أَسْمَعْهُ مِنْهُ قَالَ قَتَادَةُ عَنْ يَحْيَى بْنِ مَالِكٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ…

Menceritakan kepada kami Ali Ibn Abdullah, menceritakan kepada kami Mu’adz ibn Hisyam[1] ...continue, beliau berkata, Aku menemukan dalam kitab bapakku dengan tulisan tangannya dan aku tidak mendengar hadits ini dari beliau. Beliau berkata: Qatadah dari Yahya ibn Malik dari Samurah ibn Jundub… dan seterusnya sampai akhir hadits

Hadits ini dari jalur wijadah Ibnu Hisyam, diriwayatkan pula oleh:

  • Imam Ahmad v (w. 241 H/ 855 M) dalam Musnad (5/11) no. 20130,
  • Imam Al-Hakim v (w. 405 H/ 1015 M) dalam Al-Mustadrak (1/427) no. 1068,
  • dan Imam Baihaqi v (w. 458 H/ 1066 H) dalam Sunan (3/238) no. 5722.

Walaupun tidak termasuk dalam kaidah manqul KH Nurhasan, Imam Al-Hakim v malah berkata tentang hadits ini, “Shahih berdasarkan syarat Imam Muslim”, yakni artinya sanad hadits ini termasuk dalam kategori shahih menurut Imam Muslim v (w. 261 H/ 875 M) dalam Shahihnya, pendapat Al-Hakim disepakati Al-Hafizh Adz-Dzahabi v (1/289).

“Aku menemukan dalam kitab bapakku dengan tulisan tangannya dan aku tidak mendengar hadits ini dari beliau”.Mu'az ibn Hisyam

Dan hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani v dalam ash-Shahihah no. 365.

Banyak sekali Ahli hadits yang meriwayatkan hadits-hadits wijadah semisal ini, tentu tidak mungkin penulis sebut semuanya, akan tetapi hanya sebagian contoh saja. Penulis akan sebutkan dengan no dan halamannya agar pembaca mudah merujuknya langsung:

  1. Imam Ibn Sa’ad v (w. 168 H/ 785 M) dalam Thabaqah (1/70),
  2. Imam Abdurrazaq v (w. 211 H/ 827 M) dalam Al-Mushanaf no. 1134, 4335, 9473,
  3. Imam Ibn Abi Syaibah v (w. 235 H/ 850 M) dalam Mushanaf (1/344/4) dan (6/304/5),
  4. Imam Abd ibn Hamid v (w. 249 H/ 863 M) dalam Musnad (1/193) no. 182,
  5. Imam Ibn Abi Dunya v (w. 281 H/ 894 M) dalam Sifatul Jannah no. 154,
  6. Imam Al-Bazzar v (w. 292 H/ 905 M) dalam Musnad no. 1116 (no. 53 – Musnad Sa’ad) atau dalam Bahrul Zakhr (3/355) no. 998,
  7. Imam Abu Ya’la v (w. 307 H/ 920 M) dalam Al-Musnad (14/194) no. 6759,
  8. Imam At-Thabari v (w. 310 H/ 923 M) dalam Tahdzib Al-Atsar (3/42) no. 650,
  9. Imam Abu Awanah v (w. 316 H/ 928 M) dalam Mustakhrij-nya (5/361) no. 2030,
  10. Imam Ath-Thahawi v (w. 321 H/ 933 M) dalam Musykilul Atsar (4/104),
  11. Imam Ibn Abi Hatim v (w. 327 H/ 938 M) dalam Tafsir no. 6843, 7537, 14059, dan 16412,
  12. Imam Thabrani v (w. 360 H/ 971 M) dalam Mu’jam Al-Kabir (3/169) no. 3026 dan Al-Ausath (5/327),
  13. Imam Ibn Sunni v (w. 364 H/ 974 M) dalam Amal Yaum Wal Lailah (2/305) no. 422,
  14. Imam Al-Lalikai v (w. 408 H/ 1027 M) dalam Al-Ushul (1/455) no. 383,
  15. Imam Abu Nu’aim v (w. 430 H/ 1038 M) dalam Hilyatul Auliya (4/179).
  16. Imam Ibn Abdil Bar v (w. 463 H/ 1071 M) dalam Jami Al-Bayan Al-Ilmu (1/234) no. 218,
  17. Imam Ibn Atsakir v (w. 571 H/ 1176 M) dalam Tarikh Dimasyq (7/82), (9/434) dan lainnya banyak sekali.

Apakah pantas jika kita mengkafirkan para ulama diatas karena telah membolehkan riwayat yang tidak manqul dan telah beramal dengan riwayat tersebut?. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari mengkafirkan kaum muslimin terutama para ulamanya.

Padahal wijadah para ulama itu bersifat umum, kadang tidak ada hubungan darah atau bahkan tidak pernah berjumpa sama sekali dengan penulis yang diwijadahi

Sebagian orang jahil/bodoh mengatakan kalau wijadah para ulama itu dilakukan karena adanya hubungan nasab dengan penulis tulisan yang diwijadahi, atau karena mereka adalah muridnya langsung. Padahal wijadah para ulama itu bersifat umum, kadang tidak ada hubungan darah atau bahkan tidak pernah berjumpa sama sekali dengan penulis yang diwijadahi, sebagian contohnya telah kami sebutkan pada bagian enam tadi. Adapun persyaratan harus adanya nasab atau harus tulisan gurunya, maka tidak ada ulama yang menyebutkan wijadah dengan syarat-syarat ini, hanya mereka yang mencari-cari alasan dari pembenaran kaidah batilnya. []

Catatan Kaki   [ + ]

1. Dan telah ma’ruf diketahui kebiasaan wijadahnya Mu’adz ibn Hisyam oleh Ahli Hadits, sebagaimana disebutkan dalam riwayat hidupnya, lihatlah : Adz-Dzahabi v dalam Mizan Al-I’tidzal (6/453 – Darul Kutub Al-Ilmiyah), beliau berkata : “Mu’adz ibn Hisyam ibn Abi Abdillah Al-Dastawa’i Al-Bashri, shaduq, shohibul hadits dan terkenal”. Berkata Ibn Madini, “Disisinya ada sekitar sepuluh ribu hadits dari Ayahnya”. Al-Mizzi v dalam Tahdzib Al-Kamal jilid (28/139 -143) no. 6038 – cet Mu’asasah Ar-Risalah, disana disebutkan bahwa jika Mu’adz mendengar dari ayahnya, dia berkata, “Ini aku mendengarnya (langsung)”, kemudian jika tidak, dia berkata, “Ini tidak didengar (langsung) darinya”.

Lihat pula : Bukhari v dalam Tarikh Al-Kabir (7/366) biografi no. 1572, Ibn Hibban v dalam Ats-Tsiqat (9/176) no. 15857 –Darul Fikr. Ibn Hajar v dalam Taqrib At-Tahdzib (1/536) no. 6742 -Dar Ar-Rasyid, dan lainnya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>