Siapa yang Dimaksud Dengan Pencuri Hadist ?

Siapa yang Dimaksud Dengan Pencuri Hadist ?

Jama’ah 354 menuduh orang yang beramal dengan kitab tanpa sanad kepada penulisnya (tanpa manqul) sebagai pencuri ilmu (berdosa). Padahal ilmu para Nabi telah diwarisi oleh para ulama dan diabadikan dalam karya-karya ilmiyah mereka, dan semuanya adalah hak setiap orang muslim untuk mempelajari dan mengamalkan-nya, tidak satupun dari mereka yang mensyaratkan suatu persyaratan tertentu bagi yang ingin membaca karya mereka.

Contohnya Imam Asy-Syafi’i v (w. 204 H/ 820 M) sebagaimana dikisahkan oleh Abu Nu’aim v (w. 430 H/ 1038 M) dalam kitabnya Hilyatul Auliya (9/118),

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدٍ الشَّعْرَانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الرَّبِيعَ بْنَ سُلَيْمَانَ، يَقُولُ: دَخَلْتُ عَلَى الشَّافِعِيِّ وَهُوَ عَلِيلٌ، فَسَأَلَ عَنْ أَصْحَابِنَا، وَقَالَ: «يَا بُنَيَّ، لَوَدِدْتُ أَنَّ الْخَلْقَ كُلُّهُمْ تَعَلَّمُوا – يُرِيدُ كُتُبَهُ – وَلَا يُنْسَبُ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْءٌ

Menceritakan kepada kami Ibrohim bin Ahmad Al-Muqri, menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Ubaid Asy-Sya’rani. Beliau berkata, “Aku mendengar Ar-Robi’ bin Sulaiman berkata, Aku mengunjungi Syafi’i ketika menjelang wafatnya. Seorang teman kami bertanya kepada beliau, maka beliau menjawab, “Ya anakku, aku berangan-angan seandai-nya seluruh manusia mempelajari karya-karyaku, dan mereka tidak menisbatkan sedikitpun dari karya-karya itu kepadaku”.

Adapun kutipan dari Syaikh Muhammad Mushtofa Azami v ahli hadits dari India [1] ...continuedalam bukunya yang terkenal Studies In Early Hadith Literature (Dirasat fi Al-Hadith an-Nabawi wa Tarikh Tadwinih), maka yang Syaikh maksud dengan ‘pencuri hadits’ adalah jika si penukil (rawi) tidak jujur dalam penukilannya.[2] ...continue Dalam halaman 520 (cetakan terjemahan Indonesia) beliau berkata,

“Memang terkadang mereka tidak memperoleh izin dari penulis atau pengarangnya untuk meriwayatkan isi kitabnya. Akan tetapi dalam hal ini mereka jujur menuturkan hal itu”.

Lalu beliau menyebutkan contohnya.

Bahkan dalam takhrijnya untuk Shahih Ibn Khuzaimah, beliau menyerahkan pengoreksian kitab itu kepada Syaikh Al-Albani v dan menyebut beliau dengan sebutan, “Fadhilatus Syaikh Al-Muhadits Al-Kabir Nasiruddin Al-Albani…”  (1/6), padahal ia mengetahui bahwa Syaikh Al-Albani v lebih banyak mendapatkan ilmunya (membaca) di perpustakaan seperti telah ma’ruf.

Jadi kategori pencuri hadits menurut ulama berbeda dengan kategori KH Nurhasan dan jama’ah 354. []

Catatan Kaki   [ + ]

1. Beliau lahir di kota Mano, India Utara tahun 1932 M, dan pernah sekolah di Universitas Cambridge, Inggris. Lalu pindah ke Mekkah untuk mengajar di Universitas King Abdul Aziz (Ummul Quro), diantara temannya di Universitas ini adalah Dr. Amin Al-Mishri, murid Al-Albani. Lalu beliau mengajar di Universitas King Saud, hingga pada tahun 1400 H/ 1980 M beliau mendapatkan Hadiah Internasional Raja Faisal untuk pengabdiannya kepada Islam.
2. Jika dirunut, justru klaim bersanad/berijazah/bermanqul Haji Nur Hasan dari ulama Mekkah dan Madinah yang tidak pernah bisa dibuktikan itu bisa saja termasuk kategori “pencuri hadits” menurut Syaikh Azami.
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>