Orang Yang Suka Berbohong Tidak Bisa Diterima Riwayatnya

Orang Yang Suka Berbohong Tidak Bisa Diterima Riwayatnya

Dalam hubungannya dengan ilmu hadits, orang yang suka bertaqiyah atau bersumpah palsu demi membela mazhabnya tidak dapat diterima riwayatnya, walaupun ia menyebutkan sanad disertai sumpah. Jama’ah 354 dikenal memiliki sikap taqiyah dan membolehkan sumpah palsu untuk membela jama’ah, yang disebut Fathonah, bithonah, budi luhur, bahkan menjadikannya ibadah dan menisbatkannya kepada sunnah.[1] ...continue Dengan demikian, andaikata benar jama’ah 354 memiliki sanad peri-wayatan maka periwayatannya itu tidak diterima disisi ahli hadits ditinjau dari ilmu hadits.

Al-Hafizh Adz-Dzahabi v (w. 748 H/ 1347 M) memberi alasan,

بَلِ الْكَذِبُ شِعَارُهُمْ، وَالنِّفَاقُ وَالتَّقِيَّةُ دِثَارُهُمْ، فَكَيْفَ يُقْبَلُ مَنْ هَذَا حَالُهُ

”… sebab bahkan kedustaan adalah ciri khas mereka dan taqiyah dan nifak pakaian mereka. Bagaimana bisa diterima riwayat dari mereka?”. (Mizan Al-I’tidal 1/118 –Cet Darul Kutub Ilmiyah)

Maksud beliau, walaupun mereka memiliki sanad dan menuturkan sanad, tapi riwayat mereka tetap tidak diterima, sebab menjadi kabur dan tersamar antara kebenaran dan kedustaannya. Tidak jelas, apakah riwayatnya ini taqiyah atau sebuah kebenaran.

Imam Al-Khathib Al-Baghdadi v (w. 463 H/ 1072 M) berkata,

طَائِفَة من أهل الْعلم إِلَى قبُول أَخْبَار أهل الْأَهْوَاء الَّذين لَا يعرف مِنْهُم استحلال الْكَذِب وَالشَّهَادَة لمن وافقهم

”… Sebagian ulama menerima riwayat dari ahli bid’ah yang tidak dikenal menghalalkan dusta dan membuat kesaksian palsu untuk para pengikutnya”. (Al-Kifayah hal. 367 –cet Darul Huda).

Al-Hafizh Ibn Shalah v (w. 643 H/ 1245 M) berkata,

وَمِنْهُمْ مَنْ قَبِلَ رِوَايَةَ الْمُبْتَدِعِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مِمَّنْ يَسْتَحِلُّ الْكَذِبَ فِي نُصْرَةِ مَذْهَبِهِ أَوْ لِأَهْلِ مَذْهَبِهِ

”Diantara para ulama ada yang menerima riwayat ahli bid’ah asal tidak menghalalkan dusta untuk membela mazhab atau bagi pengikutnya”. (Muqadimah Ibn Shalah hal. 298 –cet Darul Ma’arif).

Imam Nawawi v (w. 676 H/ 1278 M) berkata,

… وَمَنْ لَمْ يُكَفَّرْ قِيلَ: لَا يُحْتَجُّ مُطْلَقًا، وَقِيلَ: يُحْتَجُّ بِهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ مِمَّنْ يَسْتَحِلُّ الْكَذِبَ فِي نُصْرَةِ مَذْهَبِهِ، أَوْ لِأَهْلِ مَذْهَبِهِ ،

”Dan siapa saja (Ahli bid’ah) yang tidak kafir, sebagian (ulama) menolak riwayatnya secara mutlak dan sebagian yang lain menerima asal tidak menghalalkan dusta untuk membela madzhab dan pengikut madzhabnya”. (At-Taqrib wa At-Taisir hal. 50-51 – Darul Kutub Al-’Arobi).[]

Catatan Kaki   [ + ]

1. Pembahasan masalah ini akan datang dalam seri khusus, insyaAllah Ta’ala. Disana dijelaskan perbedaan antara taqiyah yang disyari’atkan dan taqiyahnya Jama’ah 354.
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>