Tidak Manqul, Ilmunya Tertolak

Tidak Manqul, Ilmunya Tertolak

Sebenarnya Rasulullah n tidak pernah mengatakan bahwa siapa saja yang tidak manqul/tidak punya sanad ijazah, ilmunya tidak diterima, ditolak, semua amalannya dianggap tidak sah, maka shalatnya tidak sah, begitu juga puasa, haji, zakat dan amalan lainnya pun tidak sah. Bahkan syahadatnya pun tidak sah, sehingga orang (yang tidak mangkul) itu masih kafir.

Itu semua adalah pemahamannya jama’ah H. Nur Hasan yang keliru dan tidak memiliki dalil yang kuat. Bahkan riwayat yang ada justru sebaliknya, orang yang menerima ilmu dari sebuah kitab saja lalu beriman dengan apa yang ada didalamnya justru dianggap “orang-orang yang ajaib imannya” oleh Rasulullah n.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Hasan ibn Arfah v dalam Juz’un (hal. 20 no. 19)[1] ...continue,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ الْحِمْصِيُّ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ قَيْسٍ التَّمِيمِيِّ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَيُّ الْخَلْقِ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟» ، قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ، قَالَ: «وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ، وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ؟» ، قَالُوا: فَالنَّبِيُّونَ، قَالَ: «وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ، وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ؟» ، قَالُوا: فَنَحْنُ، قَالَ: «وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ، وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟» ، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا إِنَّ أَعْجَبَ الْخَلْقِ إِلَيَّ إِيمَانًا لَقَوْمٌ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ، يَجِدُونَ صُحُفًا فِيهَا كُتُبٌ يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا»

Menceritakan kepada kami Ismail ibn ‘Iyasy Al-Hamshi dari Al-Mughiroh ibn Qais At-Tamimi dari ‘Amru ibn Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya, yang berkata: Rasulullah n bersabda: “Makhluk mana yang menurut kalian paling ajaib imannya?”. Mereka mengatakan: “Para malaikat.” Nabi n mengatakan: “Bagaimana mereka tidak beriman sedang mereka disisi Rabb mereka?”. Mereka pun (para sahabat) menyebut para Nabi, Nabi n pun menjawab: “Bagaimana mereka tidak beriman sedang wahyu turun kepada mereka”. Mereka mengatakan: “Kalau begitu kami?”. Nabi n menjawab: “Bagaimana kalian tidak beriman sedang aku ditengah-tengah kalian.” Mereka mengatakan: “Maka siapa wahai Rasulullah?”. Beliau n menjawab:  “Orang-orang yang ajaib imannya adalah orang-orang yang datang setelah kalian [2] ...continue, mereka menemukan lembaran-lembaran kitab lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya”.

Atsar ini telah dikuatkan Imam As-Sakhawi v (w. 902 H/ 1497 M) dalam Fathul Mughits (2/156).[3] ...continue

Al-Hafizh Ibn Katsir v [4] ...continue

(w. 774 H/ 1372 M) dalam Tafsirnya (1/167 –cet Darul Thoyibah) menjadikan hadits ini dalil bagi amalan wijadah[5] ...continue

 

Dan Imam Al-Albani v mendhaifkannya dalam Adh-Dhaifah no. 647, kemudian beliau rujuk dengan menghasan-kannya dalam Ash-Shahihah (7/654-657 no. 3215). []

Catatan Kaki   [ + ]

1. Semisalnya Al-Khatib dalam Syaraf Ashabul Hadits (1/65) no. 55.
2. Pengikut Haji Nurhasan memiliki syubhat tentang hadits ini, yaitu bahwa hadits ini tidak berlaku dizaman kita, karena masih ada orang yang manqul, kecuali nanti bila sudah tidak ada lagi yang memiliki ilmu mangkul maka hadits ini baru bisa dijalankan. Padahal hadits itu berbicara secara umum tanpa pembatasan dan pengecualian. Nabi n bersabda, “Orang-orang yang datang setelah kalian”, berarti ini bersifat umum bagi kaum setelah sahabat radhiyallahu’anhum ajmain. Para ulama ahli hadits pun memahaminya secara umum, buktinya banyak ulama yang menjadikan hadits ini dalil bagi riwayat wijadah, sedangkan mereka hidup dimasa masih banyak sekali periwayatan hadits yang masuk dalam kategori manqul.
3. Imam As-Sakhawi v berkata,

وَقَدِ اسْتَدَلَّ الْعِمَادُ بْنُ كَثِيرٍ لِلْعَمَلِ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ: («أَيُّ الْخَلْقِ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟)

“Dan sungguh beristidal (menjadikannya dalil) Al-Imad ibn Katsir bagi amalan (wijadah) dengan sabda Rasulullah n dalam hadits shahih: “Apakah mahluk yang paling ajaib imannya?….”. (Fathul Mughits 2/156).

4. Al-Hafizh Ibn Katsir v berkata dalam Tafsirnya (1/167 –cet Darul Thoyibah):

وَهَذَا الْحَدِيثُ فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى الْعَمَلِ بالوِجَادة الَّتِي اخْتَلَفَ فِيهَا أَهْلُ الْحَدِيثِ

“Dan hadits ini didalamnya terdapat dalil atas amal dengan wijadah yang berbeda pendapat tentangnya ahli hadits”.

5. Istilah ketika rowi meriwayatkan dari kitab/lembaran hadits yang tidak didengar langsung dari pemiliknya, tidak pula lewat ijazah atau munawalah. Wijadah tentu tidak masuk dalam cakupan manqul.

Al-Imam Ibn Sholah v (w. 643 H) dalam Ulumul Hadits (hal. 181 – cet Darul Fikr) memberi alasan,

“Karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadits yang dinukil (yang dimanqul) karena tidak mungkin terpenuhinya syarat periwayatan padanya”.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>