Sanad dan ijazah bukanlah jaminan kebenaran

Sanad dan ijazah bukanlah jaminan kebenaran

Sanad dan ijazah seperti ini bukanlah jaminan kebenaran dalam hal aqidah atau manhajnya. Bukan pula jaminan orang yang memberi ijazah akan sama aqidah atau manhajnya dengan orang yang diberi ijazah, sebab ijazah hadits bukan tazkiyah ilmiyah atau tazkiyah aqidah melainkan hanya periwayatan saja.

Dahulu pun contohnya sangat banyak, para perawi yang meriwayatkan hadits tapi mereka memiliki pemahaman menyimpang seperti Khawarij, Murji’ah dan lainnya.

Misalkan ada perawi yang bernama: Imron bin Hiththan seorang perowi dalam Shahih Bukhori, lihat dihadits no. 5835 dan 5952. Walaupun Imam Bukhori v meriwayatkan dari jalur dia, sebenarnya Imron berpema-haman Khawarij.[1] ...continue

Al-Hafizh Ibnu Hajar v (w. 852 H/ 1448 M) berkata,

عمرَان بن حطَّان السدُوسِي الشَّاعِر الْمَشْهُور كَانَ يرى رَأْي الْخَوَارِج قَالَ أَبُو الْعَبَّاس الْمبرد كَانَ عمرَان رَأس القعدية من الصفرية وخطيبهم وشاعرهم انْتهى والقعدية قوم من الْخَوَارِج كَانُوا يَقُولُونَ بقَوْلهمْ وَلَا يرَوْنَ الْخُرُوج بل يزينونه وَكَانَ عمرَان دَاعِيَة إِلَى مذْهبه

“Imran bin Hiththan as-Sudusi, seorang penyair terkenal. Ia berfaham Khawarij. Abu Abbas al-Mubarrad berkata, ‘‘Imran bin Hiththan adalah pimpinan, penyair dan khathib al-Qa’diyah.’ Al-Qa’diyah adalah kelompok sempalan dari Khawârij yang berpandangan tidak perlu memberontak atas penguasa akan tetapi mereka hanya merangsang untuk memberontak. Imran adalah juru dakwah kepada mazhabnya”. (Fathul Baari 1/432).

Alasan Imam Bukhori v dan para ulama lainnya menerima hadits Imran karena walaupun berpemahaman Khawarij, Imron dikenal tsiqah dan tidak suka berdusta.

Al-Hafizh Al-Mizzi v (w. 742 H/ 1341 M) berkata,

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: لَيْسَ فِي أَهْلِ الأَهْوَاءِ أَصَحُّ حَدِيْثاً مِنَ الخَوَارِجِ. ثُمَّ ذَكَرَ عِمْرَانَ بنَ حِطَّانَ

Imam Abu Dawud berkata, Tidak ada dari ahli bid’ah yang shahih haditsnya kecuali dari kelompok Khawarij, kemudian beliau menyebutkan Imron bin Hiththan… ”. (Tahdzib Al-Kamal 22/323).[2] ...continue

Catatan Kaki   [ + ]

1. Imron semula adalah ahlus sunnah, kemudian diakhir hidupnya berubah karena terpengaruh oleh istrinya. Al-Hafizh Ibnu Atsakir v menyebutkan kisahnya, “… Bahwa Imran bin Hiththan menikahi perempuan Khawarij (dengan tujuan) untuk mengeluarkan perempuan tersebut dari pemahaman Khawarijnya. Akan tetapi, perempuan itulah yang justru kemudian mengubah Imran menjadi Khawarij” (Tarikh Dimasyq 43/490).
2.  Lihat pula biografi Imron oleh:

  • Bukhori dalam Tarikh (6/413),
  • Ibnu Abi Hatim dalam Jarh wa Ta’dil jilid (6/296),
  • Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqah (5/222),
  • Adz-Dzahabi dalam Siyar ‘Alam An-Nubala (5/121 –cet. Darul Hadits),
  • Ibnu Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib (8/127) dan lainnya.
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>